Saya punya grup nasyid. Namanya Rasi Voice. Belakangan ini, kami yang terdiri dari empat personel, Ryan, Amy, Sandy dan saya sendiri, Bhima, mulai sering latihan bersama.
Pasti ada yang mengira nama RASI diambil nama personelnya, tapi kok berbeda? Pada awalnya, grup yang terbentuk pada tahun 2004 silam, ini memang terdiri dari empat personel. Tiga nama yang sudah disebutkan pertama di atas serta satu orang teman saya, namanya Irfan. Yup, pas sekali disebut dengan RASI.
Pada latihan pertama, ada tiga orang yang kemudian diajak bergabung. Surya, Wahyu, dan saya sendiri. Kami bertujuh, kecuali Amy sempat masuk dalam Unitas Paduan Suara Mahasiswa Universitas Brawijaya. Dan, melalui unitas inilah kami semakin akrab dan dekat. Di penghujung 2004, kami sempat mengikuti kompetisi nasyid tingkat nasional yang diselenggarakan di Graha Medika. Menyanyikan lagu Ayah karya Suara Persaudaraan, penampilan kami yang berusaha optimal, tidak mampu menutupi rasa nervous. Alhasil kami hanya berhasil masuk tiga belas besar sebagai finalis saja. Masuk tahun 2005, personel kami satu per satu mulai rontok. Pertama kali, Surya berkata terus terang ingin mengundurkan diri. Dalam sebuah sesi curhat yang dibuat dramatis, dia sempat mengaku risau dengan keputusannya karena sangat menyukai kami. Namun, dia memilih untuk fokus dengan kuliahnya. Bahkan, ia juga keluar dari PSM. Selanjutnya, Irfan. Bagi kami, dia begitu istimewa. Bukan karena sikapnya yang memuja ketampanannya sendiri alias narsis, melainkan karena suaranya yang empuk didengar. Kegandrungannya pada Aguilera, membuatnya mampu mengolah improvisasi suara nan meliuk-liuk. Saya seringkali mengagumi suaranya yang lembut ketika bernyanyi. Tapi, hampir tidak pernah berterus terang di hadapannya. Takut dia semakin besar kepala. Yang jelas, dia salah satu sahabat yang kutemukan melalui nasyid ini. Kelak, dia punya peran dalam mewarnai hari-hariku selanjutnya pasca keluar dari Rasi Voice.
Akhirnya, kami berlima yang melanjutkan latihan bersama. Sayang sekali, Wahyu tidak lagi bisa optimal. Banyak sekali yang dikeluhkannya, mulai dari merepotkan Ryan yang harus menjemputnya hingga sikapnya yang rendah diri, membuat kami akhirnya juga harus merelakan dia pergi. Sebenarnya, banyak sekali kisah-kisah mengenai dua orang sahabatku ini, Irfan dan Wahyu. Namun, karena terlampau banyak, perlu dijadikan satu tulisan tersendiri.
Pada tahun 2006, kami mendapat dua job untuk tampil, yakni di acara mahasiswa Sastra Jerman serta diklat jurusan Perencanaan Wilayah Kota di Singosari. Kami berempat berusaha tampil maksimal. Namun, entahlah. Kami memang sudah latihan. Namun, seringkali ketika unjuk gigi, kurang bisa optimal. Toh, para penonton sudah memberikan apresiasinya walaupun mereka juga sama-sama mahasiswa. Yang terpenting bagi kami, Rasi Voice harus tetap bisa eksis.
Selama tahun 2007, kami tidak pernah bertemu kembali. Masing-masing anak memiliki kesibukan masing-masing. Amy menjabat sebagai Ketua Himpunan, Sandy bekerja di sebuah instansi serta pengerjaan skripsinya. Sedangkan Ryan juga padat dengan jadwal band dan kuliahnya. Lalu saya? Waktu itu, saya fokus dengan skripsi, jabatan sebagai Supervisor Marketing untuk Laboratorium Rekayasa dan Sistem Produksi Fakultas Teknologi Pertanian, serta magang di PT Coca Cola. Sebenarnya, saya masih bisa menyempatkan waktu sepanjang tahun itu. Namun, kami terlampau bergantung dengan Ryan.
Bagi saya, Ryan ibarat kawan, teman, sekaligus sahabat. Dia pandai sekali mengaransemen musik. Saya hampir selalu tak pernah mendengar fals ketika ia bernyanyi. Suaranya merdu dan empuk. Karena kemampuannya, dia sempat meraih juara pertama pada lomba vokal di ajang PEKSIMINAS tingkat Provinsi Jawa Timur dan berhak untuk maju di tingkat nasional di Makassar. Saya telah menduga, suatu saat kelak ia pasti bisa jadi penyanyi profesional. Boleh dibilang, ia cukup lengkap jika hendak tampil sebagai seorang artis. Mungkin, satu-satunya yang kurang adalah wajahnya yang mungkin tidak terlampau menarik perhatian orang. Tapi, ketika ia sudah berdiri di atas panggung, dapat dipastikan tak ada seorang pun yang bakal melewatkan penampilannya. Dalam hal olah vokal, dia sangat menginspirasi saya. Namun, hingga kini, seberat apapun usaha saya, tak pernah bisa akan semerdu dan seempuk suaranya.
Pada awal perkenalan saya dengan dirinya, sosoknya yang dewasa terlihat dari kemampuannya berkomunikasi serta mengatur grup nasyid kami. Dia dijuluki anak-anak dengan ”Bu RT” karena kecerewetannya. Namun, jujur, jika tak ada dia, latihan kami tidak akan pernah bisa berjalan dengan mulus.
Antara tahun 2005-2006, hubungan kami berdua sangat intens dan akrab. Banyak hal yang kami lakukan secara bersama-sama. Mulai dari sekadar jalan-jalan, bercanda, tertawa, saling mengejek, makan lalapan di Dieng, bernyanyi, maen game, hingga bertukar pikiran membicarakan hari-hari ke depan. Tema kami beragam. Antara keluarga, keinginan, ambisi, relationship, juga kegelisahan dengan kondisi saat ini. Entah mengapa, setiap bertemu dengannya, selalu saja nuansa keceriaan dan kegembiraan yang terasa. Tidak ada perasaan boring sekalipun. Dia juga pandai menghibur dan tahu pada saat yang tepat untuk bercanda, memberi nasihat, atau pura-pura marah. Memang terkadang kami berselisih paham, namun cepat pula kami segera melupakannya. Dia berarti sekali buat saya, bahkan sudah seperti saudara. Kecocokan di antara kami ternyata membuat hubungan kami awet hingga saat ini.
Kembali pada nasyid. Sekitar empat minggu lampau, Sandy menelepon. Dikatakannya, ada job lagi. Namun kali ini tidak main-main. Ada sebuah stasiun televisi baru, namanya CRTV yang akan release bulan Juni-Juli 2008 nanti, menawarkan grup nasyid kami untuk bisa tampil mengisi acara mereka. Kebetulan, ayah Sandy menduduki jabatan sebagai sekretaris pada stasiun televisi tersebut. Tentu saja kami kaget. Ditinjau dari vokal, yang paling menonjol, tentu saja masih Ryan. Ditinjau dari materi lagu, kebanyakan kami masih menyanyikan lagu-lagu orang lain, seperti Raihan, SNADA, atau Suara Persaudaraan. Usai bertemu dengan pemilik perusahaan plus tim kreatif, kami dipersilakan untuk merekam lagu sendiri yang kemudian ditampilkan bersama dengan video klip yang dibuat menyusul.
Segalanya berlangsung cepat. Hingga kini, masih dalam tahap proses rekaman lagu sendiri. Belum tahu pula bagaimana hasilnya. Yang pasti, masing-masing dari kami merasa, jalan ke arah yang lebih lebar telah terbuka luas. Tinggal bagaimana kami bisa memanfaatkannya. Makanya, belakangan ini kami getol berlatih seoptimal mungkin agar hasilnya bisa bagus. Tentu, tidak sesempurna artis-artis rekaman yang berlabel besar. Setidaknya kami sudah melangkah pada satu tahap yang lebih maju. Daripada, penampilan kami yang berkutat dari satu panggung ke panggung yang lainnya. Alhamdulillah ya Allah. Tak sabar menanti kisah hidup selanjutnya yang telah tertanam pada kalam-Mu.Regards,
Abhiem
