<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254</id><updated>2011-04-21T17:55:03.824-07:00</updated><title type='text'>abhiem's writing and thinking</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-6213607286872311962</id><published>2008-03-11T02:55:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T02:56:22.282-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="ymsgr:sendIM?bhim_bhim_books"&gt;&lt;img src="http://opi.yahoo.com/online?u=muhammad&amp;amp;m=g&amp;amp;t=2" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-6213607286872311962?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/6213607286872311962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=6213607286872311962' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/6213607286872311962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/6213607286872311962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/blog-post_11.html' title=''/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-1409484624529019111</id><published>2008-03-11T02:53:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T02:54:13.270-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;img src="http://opi.yahoo.com/online?u=YahooID&amp;m=g&amp;t=2" border="0"&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-1409484624529019111?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/1409484624529019111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=1409484624529019111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1409484624529019111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1409484624529019111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/blog-post.html' title=''/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-6526781100227272966</id><published>2008-03-09T08:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-09T08:56:02.633-07:00</updated><title type='text'>Dua Kawan, Dua Andre, dan Dua Novel</title><content type='html'>Ruangan berukuran 3x4 meter. Ada dua buah ranjang di situ. Di antaranya, terletak sebuah rak meja berposisi melintang. Di sisi lainnya, terdapat sebuah lemari yang bersebelahan dengan sebuah rak meja pula. Tepat di atas keduanya, tergantung sebuah televisi berwarna ukuran 14 inch pada sebuah rangka berbentuk kotak. Adegan yang ditampilkan saat itu sebenarnya tegang, kejar-kejaran dengan sosok hewan purbakala. Namun, celoteh yang dilontarkan oleh salah seorang tokoh mencairkan suasana, lumer sepenuhnya. Ruangan terasa segar, meskipun itu adalah bilik di rumah sakit Universitas Islam Malang – yang populer disingkat dengan Unisma, saja. Seorang kawan sekaligus sahabat saya dirawat di sana, mulai hari Sabtu, tanggal 1 Maret 2008 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hendarmawan, namanya. Singkat. Profilnya yang menggugah semangat pernah kami tampilkan pada media bernama Mimbar, edisi Desember 2007 yang beredar sebulan kemudian. Kami mulai berkenalan ketika dia sering singgah di Humas lalu bercerita tentang aktivitasnya yang membuatku terperangah, tak percaya. Bayangkan, hampir saban minggu dia bercerita tentang prestasinya yang luar biasa. Kerap membuatku iri oleh keberuntungannya, bagaimana bisa dia memperoleh segala hal tersebut. Dulu, sewaktu kami belum begitu akrab, aku mengira dia jadi salah satu orang pintar yang susah diakrabi. Maklum, biasanya orang pintar seperti itu. Namun, seiring berlalunya waktu, ternyata ia mudah juga diajak bertukar pikiran, bercerita tentang hobi, minat, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, susah juga mengajak dia untuk jalan-jalan. Harus bikin janji dari sebulan sebelumnya. Aktivitasnya yang padat setiap harinya membuat komunikasi kami sering melalui e-mail, yahoo messenger. Hanya sekadar menyapa atau saling memberi semangat pada skripsi kami masing-masing. Tapi, seringnya saya yang bertanya pada dirinya, biasanya berhubungan dengan teknologi informasi. Maklum, saya terbilang masih harus belajar banyak soal ini, kalau tidak mau dibilang gaptek. Hehe. Dan, Hendarmawan dengan sabar memberikan jawaban dengan baik dan benar. Saya merasa dia lebih dari sekadar kawan bagi saya sendiri. Hanya dalam tempo kurang dari tiga bulan, kami sudah benar-benar akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih ketika hari Sabtu lalu, saya menerima sms dari dirinya, mengabarkan sedang tergeletak di rumah sakit karena menderita penyakit DBD [Demam Berdarah Dengue] akut. Dia harus diopname. Saya kaget. Pesan pendek itu saya terima sore hari, sekitar pukul 14.30 WIB. Padahal usai maghrib seperti biasanya saya harus berlatih nasyid bersama teman-teman, Ryan, Amy, serta Sandy. Ragu-ragu, saya ingin menjenguk dia terlebih dahulu, kemudian baru berlatih. Sayang sekali, motor Ryan yang biasa kutumpangi rusak. Dia bersama kawannya, Dinu. Akhirnya kami latihan dulu. Amy tidak hadir karena menjadi pemateri pada acara himpunannya di Batu. Kami hanya latihan bertiga plus Dinu yang bertugas sebagai gitaris, pemberi suara background untuk mempercantik penampilan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 9 malam, latihan dibubarkan. Sandy dengan penuh perhatian bersedia mengantarkanku ke rumah sakit setelah sebelumnya kami membeli beberapa bungkus makanan. Aku sempat masuk ruangan 2B yang ditunjukkan Hendarmawan. Ternyata salah. Mulai dari resepsionist serta keluarga pasien menyatakan tidak ada. Saya lalu bingung, bagaimana bila benar-benar tidak ada? Apakah saya harus kembali lagi, pulang? Apakah dia sudah dijinkan pulang? Saya diberitahu seorang perawat yang bertugas. Dia menunjukkan bilik IIA. Kok di-sms yang saya terima, dikatakannya dengan 2B? Saya langsung menduga Hendarmawan salah ketik. Di sana, sudah ada dirinya yang terbaring di atas ranjang beserta satu sosok yang sudah tidak bisa dipungkiri keberadaannya di kancah penulisan karya tulis ilmiah tingkat Unibraw, Slamet Budi Cahyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya ramah, terbuka, suka berbincang dan berdiskusi, serta tertarik sekali dengan apapun yang berbau entrepreneurship. Kami bertiga segera terlibat obrolan seru. Terutama mengomentari film action yang lebih banyak lucunya daripada ketegangan yang ditampilkan. Malah cenderung konyol. Film ini disponsori oleh salah satu merk shampoo ternama di kalangan konsumen dunia, Head and Shoulders. Aneh sekali teknik marketingnya. Jadi ingat dengan film-film Indonesia yang sponsornya bertebaran di properti scene. Ketika si aktor berjalan, dia lewat di bawah balihonya produk rokok, ketika si aktrisnya berkencan mesra, dia ditemani oleh minuman produk sponsor, dan banyak sekali lainnya. Terkadang jadi heran, dimanakah independensi film sendiri? Apakah keberadaan sponsor yang terlampau kentara, bukannya malah memperjelek image film sendiri? Terkesan dipaksakan? Namun, jangan lupa. Produk seringkali membantu memperkuat image tokoh sendiri. Ingat kan video klipnya Krisdayanti, I’m Sorry Goodbye yang sekaligus iklan PAC Martha Tilaar atau konser Keajaiban Cinta-nya Memes yang identik dengan Miracle, produk Pond’s baru yang diiklankannya juga? Keterkaitan ini terkadang memang asyik dinikmati, tapi kebanyakan jadi aneh, malah terkesan ngawur. Tidak pada tempatnya. Saya tetap tak habis pikir, bagaimana Krisdayanti yang harusnya berakting sedih malah bergaya seperti model iklan di lagunya itu? Ah, harusnya ada sesi khusus membicarakan keterkaitan antara iklan, sang bintang, serta pesan yang terkandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada Hendarmawan dan Slamet Budi Cahyono. Ada persamaan maupun perbedaan di antara keduanya. Persamaannya, keduanya sama-sama pernah masuk pada profil tabloid Mimbar sebagai mahasiswa berprestasi. Keduanya, orang yang luar biasa, berangkat dari keluarga sederhana dan dengan tekad serta semangat mampu tampil sebagai mahasiswa cemerlang. Mereka pekerja keras, tahu betul bagaimana memanfaatkan potensinya. Sesuatu yang tidak begitu saja dimiliki oleh orang kebanyakan. Mereka juga orang yang ramah, rendah hati, tidak merasa hebat atas segudang prestasi yang telah diraih. Terkadang, banyak orang hebat yang terlena oleh kepandaiannya sehingga lupa diri, terjebak, akhirnya stagnan, tidak mampu lagi mengembangkan diri. Mereka orang yang selalu penasaran, ingin tahu, berusaha meraih segala sesuatu lebih tinggi dan tinggi. Setidaknya mencoba dulu, hasilnya terserah Yang Di Atas. Mereka juga orang-orang yang menyenangkan, asyik diajak mengobrol, serta berdiskusi tentang segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, Hendarmawan ahli dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan IT alias Information Technology. Maklum, dia lulusan Ilkom [Ilmu Komputer]. Banyak sudah proyek yang ditanganinya. Termasuk juga ISHARP [Internet for Senior High School Student Ambassador Development Program] yakni suatu program yang ditujukan untuk meminimalisir bahkan mencegah kejahatan cyber [cybercrime] untuk siswa-siswa SMA di Indonesia serta menghasilkan beberapa proyek. Kini dia berkantor di Jakarta dalam rangka mengembangkan proyeknya ini. Bulan lalu, dia mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Masalah akademis, dia pernah dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi Unibraw, Sampoerna Best Student, IT Award, dan sebagainya. Anaknya ramah, awalnya cukup pendiam, dan suka sekali mentraktir. Setiap jalan dengannya selalu tidak enak, tiba-tiba sudah dibayari. Dia senang dengan novel sastra, misalnya Ayat-Ayat Cinta. Kami hampir janjian untuk menonton bareng filmnya, namun hingga kini belum juga terlaksana. Ya, dia masih sakit. Saya harus maklum itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet Budi Cahyono, panggilannya Budi. Dia periang, supel, dan energik. Setiap dekat dengannya, saya merasakan energi berlimpah ruah yang terpancar. Dia semangat sekali berbicara tentang entrepreneurship. Harapannya saat ini hanya satu. Dia ingin mengembangkan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, almamaternya menjadi disegani, sejajar dengan Fakultas Kedokteran atau Fakultas Teknik. Stereotype yang muncul saat ini memang terkesan fakultas berbasis agrokompleks cenderung dipandang sebelah mata, remeh. Maka, Budi yang gencar dengan tulisan-tulisan karya ilmiahnya mendobrak stereotype itu. Dia tercatat sebagai wakil Unibraw dalam pentas Pelayaran Kebangsaan beberapa waktu lalu. Dia juga turut aktif mengembangkan Inkubator Bisnis, wadah untuk mahasiswa maupun UKM dalam mengembangkan produk-produknya. Buah penanya banyak menggondol prestasi jawara, semisal lomba essay nasional, PKM, serta kompetisi lainnya. Budi sosok yang sangat menyenangkan. Kami pernah mengobrol hingga pukul 2.30 WIB dini hari membicarakan tentang harapannya, keluarganya yang membuatku trenyuh, tekadnya yang kuat untuk senantiasa meraih prestasi serta kisah cintanya yang mengharu biru. Ditemani segelas kopi susu serta wedang jahe, obrolan itu hanya diputus oleh tidur dua jam saja plus Sholat Shubuh dan kembali lagi bersua dalam jalan-jalan sehat. Haha, paginya kami kembali mengobrol dan saya banyak belajar darinya, bagaimana memperjuangkan harapannya. Dalam hati, suatu waktu saya ingin berkolaborasi dengannya dalam hal penulisan, mungkin buku ilmiah populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menjadi orang yang dekat dengan saya, kemudian. Dua kawan yang mengisi kehidupan saya menjadi lebih hidup. Mereka mampu menyuntikkan semangat baru, sesuatu yang langka dalam kehidupan saya beberapa bulan sebelumnya. Pada waktu itu, saya cukup terkungkung oleh aktivitas saya yang berkutat dari skripsi, penelitian, dan dosen. Sesuatu yang membelenggu. Saya merasakan tekanan yang luar biasa. Belum lagi dari keluarga. Untunglah, kegiatan saya di Humas cukup membantu. Saya menemukan gairah kembali. Terlebih ketika berkenalan dengan Hendarmawan maupun Budi. Kemungkinan-kemungkinan lainnya seolah terbentang lebar. Memang benar, ketika engkau ingin maju, berkumpullah dengan orang-orang yang memiliki kehendak untuk maju dan selalu berpikiran positif. Saya sangat menyadari hal itu. Seperti juga, saya yang sangat terinspirasi untuk selalu maju melalui bacaan novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, serta Edensor yang memukau. Ada nama Andrea Hirata sebagai penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Laskar Pelangi, seperti menemukan kepingan diri saya ketika masih duduk di bangku SD. Bagaimana bermain bersama dengan penuh suka cita bersama kawan, berkotor-kotor di atas rumput, main rumah dari tanah, menyusuri lereng sungai yang airnya kering saat kemarau menyengat demi menemukan sepotong ubi jalar untuk dimakan bersama, main kasti, bermain kartu dan kelereng, petak umpet, berakting ala pahlawan dan musuhnya, monopoli, gamewatch, berkreasi dalam membuat mainan berupa perahu dari sandal jepit, bereksperimen membuat tape dari singkong, hujan-hujanan, bahkan mandi di sungai hingga nyaris terseret arus. Seluruhnya begitu jelas terbayang. Tak lupa, soal prestasi yang tercatat manis dalam piala yang kini terduduk lesu di atas buffet. Dua piala yang cukup membuat haru karena diraih dengan susah payah, namun cukup menyenangkan. Laskar Pelangi membuatku cinta untuk kembali bersekolah, menuntut ilmu kembali karena masih banyak yang belum kumengerti sepenuhnya. Teori-teori Fisika yang rumit menyibak misteri pengetahuan, rumus Kimia, tabel periodik Mendeleyev, Trias Politika Montesqieu, Adam Smith, Coppernicus, Newton, Thomas Friedman, hingga sastra-sastra macam NH Dini yang memukauku, Hamka, Budi Darma dengan novelnya Olenka yang menggelegar, Armijn Pane, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, John Steinback, Harper Lee, hingga Truman Capote, Jostein Gaarder, dan Paulo Coelho yang menginspirasi. Laskar Pelangi membantuku berefleksi sebagaimana manusia yang sadar akan pendidikannya dan pengetahuannya yang terbatas hingga harus terus menerus senantiasa belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pemimpi juga tak kalah seru. Ia bercerita bagaimana seseorang harus meraih harapannya, biarpun dalam kondisi paling terpuruk sekalipun. Karena itulah satu-satunya yang dimiliki manusia. Jika ia hilang, lenyaplah pula manusia itu. Sedangkan, Edensor membuaiku dalam diksi yang menggoda, susunan kata runut yang diberi sentuhan emosional. Cerita yang penuh dengan imaji, bagiku. Namun, tetap menelisik kemungkinan-kemungkinan sisi jiwaku agar mampu menggapai sebagaimana Andrea meraihnya. Ah, ia manusia yang luar biasa. Sebagaimana Hendarmawan dan Budi yang tak berhenti mengarungi kehidupan alam raya yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QHqbs8A3I/AAAAAAAAADE/NSYKWHzyN9g/s1600-h/andrea+hirata.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QHqbs8A3I/AAAAAAAAADE/NSYKWHzyN9g/s320/andrea+hirata.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175770297327682418" /&gt;&lt;/a&gt; Dalam waktu tiga bulan ini, Andrea telah menjadi sosok idolaku sepenuhnya, selain sosok yang memberiku pencerahan bagaimana menulis yang enak itu sesungguhnya. Nah, dia berada pada urutan pertama untuk kategori jurnalis yang kujadikan anutan. Namanya elegan, Andreas Harsono. Entah mengapa, dua nama yang mirip ini jadi idolaku, Andrea dan Andreas. Sama-sama pintar juga menulis. Sama-sama orang dengan prestasi luar biasa. Sama-sama rendah hati, selalu belajar dari pengalaman untuk jadi lebih baik. Dan, sama-sama sempat menempuh pendidikan di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, Andrea karyawan PT Telkom Bandung dan mengabdikan sepenuhnya pada dunia teknologi informasi. Lagi-lagi mirip dengan latar belakang kawan saya, Hendarmawan. Sedangkan, Andreas mengabdikan sepenuhnya pada perkembangan jurnalistik Indonesia dengan mendirikan Yayasan Pantau dan Institut Arus Studi Informasi [ISAI] bersama dengan Goenawan Mohammad dan kawan-kawan. Andreas, jurnalis beraliran sastrawi yang enak dibaca. Salah satu jurnalis yang mendapatkan beasiswa dari Nieman Fellowship di Amerika Serikat. Pernah bekerja di koran The Jakarta Post serta wartawan lepas di Bangkok, Thailand. Tulisannya yang sangat kusukai adalah ”Republik Indonesia Kilometer Nol” serta ”Dari Thames Ke Ciliwung” yang memenangkan banyak penghargaan internasional untuk kategori liputan investigatif mengenai privatisasi air minum di Jakarta oleh perusahaan dari Thames, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya mulai mengenal Andreas Harsono? Pada tahun 2006 silam, sekitar bulan September – Oktober, saya berkesempatan mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut yang diselenggarakan di Universitas Syarif Hidayatullah, Tangerang. Saya datang pada hari kedua, sehingga baru bisa mengikuti materi hari ketiga dari lima hari jadwal yang ditetapkan. Konsekuensinya, saya tidak mendapatkan fasilitas seistimewa kawan-kawan peserta yang lain, berupa penginapan serta makan nasi kotak. Saya menginap di rumah panitia. Enaknya, saya hanya membayar separuh dan tidak mendapatkan sertifikat. Tapi, pada akhirnya saya dapat juga setelah merayu ketua panitia. Pemateri yang hadir antara lain Bambang Harimurti, Pimpinan Redaksi Tempo serta Anugerah Perkasa, wartawan freelance yang punya background ekonomi bisnis. Satu lagi, Budi Setiono, jurnalis dari Pantau. Nama yang terakhir ini cukup familiar dengan sebutan singkat Buset. Kami pernah bertemu sebelumnya di Universitas Udayana, Bali dalam rangka pelatihan jurnalistik pula pada tahun yang sama, bulan Juni. Dia bersama dengan Amarzan Lubis, Redaktur Senior Tempo hadir sebagai pemateri. Ketika kami bersua kembali, dia sempat heran. Namun, perjumpaan kami tidak begitu intens, hanya mengobrol seperlunya. Saya masih merasa canggung dan memang waktu itu saya terbentur masalah dengan panitia. Seusai pelatihan, saya mendapatkan bingkisan berupa materi pelatihan dalam bentuk hardcopy serta satu buah majalah Pantau yang cukup langka di pasaran. Saya merasa beruntung memperolehnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah edisi Desember 2003 itu didesain cukup unik. Cover depannya ada dua lapis. Lapis pertama dipotong separuh dan melebur dengan cover lapis kedua yang utuh. Ada pelbagai artikel yang ditulis dengan bahasa mengalir, mudah dicerna, tapi cukup berbobot. Antara lain, karya Andreas Harsono berjudul “Republik Indonesia Kilometer Nol”, “Emak” karya Daoed Joesoef, “Dalam Debat dan Lebatnya Syariah” oleh Anugerah Perkasa, serta “Muhammadiyah dan Seni Tradisional” yang ditulis A Bakti Tejamulya. Tulisannya panjang-panjang, bisa jadi lebih dari sepuluh ribu kata atau bahkan sekitar dua puluh ribu kata. Jika tidak suka membaca, bisa jadi majalah ini hanya akan sekadar penghias atau ditumpuk sembarangan sebagai pelengkap properti. Saya penasaran. Saya tertarik dengan artikel “Emak” yang ternyata bagus sekali, cukup menginspirasi. Saya belum tertarik dengan tulisan Andreas Harsono sebab padat dengan intrik politik dan kasus yang rumit. Pada medio 2007, seiring penelitian skripsi, saya getol mencari-cari literatur yang berhubungan dengan jurnalistik. Khususnya beraroma investigatif. Bagi saya cukup menantang. Saya menyesal, mengapa baru tertarik akhir-akhir ini. Usai menggarap skripsi yang berdampak penuhnya kamar saya dengan referensi, baik yang berhubungan dengan disiplin ilmu saya, teknologi pangan, juga koran, jurnal ilmiah, juga jurnalistik, saya rehat sementara. Artinya, fokus pada penjilidan skripsi serta pendaftaran tetek bengek kelulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati penghujung tahun 2007, saya diminta serius untuk membantu pengerjaan tabloid Mimbar serta Prasetya Online sebagai staf redaksi. Artinya, saya harus intens di Humas Universitas Brawijaya. Di sana, saya kembali menyelami tentang jurnalistik. Menggali bahan-bahan yang berkaitan dengan hal tersebut, termasuk browsing artikel dari Pantau. Dari situlah saya mulai mengenal sosok Andreas Harsono, Budi Setiono, Anugerah Perkasa, Agus Sopian, Linda Christianty, dan lain-lain. Mereka jurnalis yang sarat dengan prestasi. Dari blogger, saya tahu Andreas ternyata berdarah Cina, punya nama leluhur yang membuatnya berganti dengan nama pribumi. Latar belakangnya cukup kompleks, baik tempat tinggal yang berganti-ganti, juga persentuhannya dengan pelbagai agama. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QGIbs8A1I/AAAAAAAAAC0/ql5h1oHVL5g/s1600-h/AndreasHarsonoportrait.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QGIbs8A1I/AAAAAAAAAC0/ql5h1oHVL5g/s320/AndreasHarsonoportrait.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175768613700502354" /&gt;&lt;/a&gt; Ia akhirnya menasbihkan beragama jurnalistik sebab darah, hidup, dan jiwanya dipersembahkan untuk dunia itu. Ia berkonflik dengan istri pertamanya, mencintai anak lelaki satu-satunya, Norman, serta menjalin hubungan dengan wanita yang juga menyukai jurnalistik, Sapariah. Andreas banyak menulis tentang nasionalisme, situasi politik, pergulatan pemikirannya, aktivitasnya sebagai pembicara yang cukup padat, serta kesibukannya yang terentang antara keluarga dan profesinya. Ia juga sedang mempersiapkan buku berjudul From Sabang to Merauke : Debunking the Myth of Indonesian Nationalism. Pembuatan bukunya tak main-main. Ia harus melakukan observasi di lebih dari delapan puluh lokasi seperti Pulau Miangas dan Pulau Ndana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sosok, Andrea Hirata dan Andreas Harsono memberikan inspirasi bagiku, dalam bidang penulisan. Satu lagi bedanya. Melalui Hirata, saya bersemangat untuk menulis novel yang sempat terbengkalai. Melalui Harsono, saya bergairah untuk menyusun buku tentang jurnalistik. Saya harus serius dengan penyusunan ini. Sebab saya tidak mau hasil karya yang telah jadi, hanya dianggap angin lalu belaka. Saya harus sungguh-sungguh agar novel maupun buku ilmiah digunakan masyarakat sebagai literatur. Saya tidak berharap muluk-muluk agar jadi novel bersejarah, seperti “In Cold Blood” karya Truman Capote yang gaungnya masih terdengar hingga kini. Begitu pula dengan “To Kill Mockingbird” dari Harper Lee, penulis wanita hebat yang meraih banyak penghargaan internasional. Saya hanya ingin agar bisa diterima oleh masyarakat. Sebenarnya, saya tahu kedua tokoh tersebut, tidak begitu lama. Baru sekitar tiga bulan belakangan ini saja. Aneh, bukan? Seluruh tokoh yang saya sebutkan di atas, saya kenal secara intens baru tiga bulan ini. Dan, semuanya menjadi inspirator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal perkenalan saya dengan kedua penulis novel yang bersahabat akrab itu pada sebuah film berjudul ”Capote”. Pada tahun 2007 silam, Phillip Seymour Hoffman meraih Academy Award atas perannya sebagai aktor utama sebagai Capote. Aktingnya dalam film ini memang gemilang. Ia dituntut mampu berperan sebagaimana aksen yang biasa dibawakan Capote dalam kesehariannya. Dan, dengan hebatnya dia mampu melakoninya, bahkan dengan sentuhan emosional yang berjiwa. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QGqLs8A2I/AAAAAAAAAC8/7elng6T-HCo/s1600-h/truman+capote.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QGqLs8A2I/AAAAAAAAAC8/7elng6T-HCo/s320/truman+capote.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175769193521087330" /&gt;&lt;/a&gt; Gaya Capote yang egosentris di tengah pesta dan selalu jadi pusat perhatian berhasil dibidik nyaris tanpa cacat. Begitu pula geliat emosinya ketika mulai menulis karya ketiganya yang bercerita tentang pembunuhan keluarga Cluster, di desa Holcum, Kansas, pada pertengahan November 1959. Film ini secara dramatis mampu menampilkan efek kejut yang hebat. Banal sekaligus fenomenal. Dalam film itu, Capote punya seorang sahabat. Namanya Harper Lee. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QIPbs8A4I/AAAAAAAAADM/HhQhGWQ-15A/s1600-h/3438562.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QIPbs8A4I/AAAAAAAAADM/HhQhGWQ-15A/s320/3438562.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175770932982842242" /&gt;&lt;/a&gt; Ia senantiasa mengiringi kemanapun Capote melangkah. Mereka kawan serasi, saling berdiskusi dan memberikan masukan positif. Kelak, karya Harper Lee tak kalah fenomenal dari milik Capote. ”To Kill Mockingbird” mendapat pelbagai penghargaan internasional, banyak digunakan sebagai referensi oleh lebih dari 70 persen siswa-siswa sekolah di Amerika Serikat yang menekuni pelajaran sastra. Sedangkan, ”In Cold Blood” terpilih sebagai tulisan paling berpengaruh abad dua puluh oleh sebuah lembaga sastra. Hingga kini, karya Capote ini dijadikan contoh tulisan investigatif yang bermutu selain ”Hiroshima” karya John Hersey. Sayang, hingga kini saya belum mendapatkan kesempatan untuk membaca kedua karya luar biasa tersebut. Dua bulan lalu, saya lebih tertarik membeli ketiga karya Andrea Hirata dari seri tetralogi yang direncanakan, ”The Alchemist”-nya Pulo Coelho serta ”The Secret” tulisan Rhonda Byne yang tak kalah jadi best seller. Rencananya, jika sudah ada rezeki baru saya beli dan menikmati novel-novel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua novel tersebut ditulis oleh kedua penulis luar biasa yang berkawan akrab. Saya juga telah berkawan akrab dengan kedua sosok luar biasa, seperti Hendarmawan dan Slamet Budi Cahyono. Saya juga sangat terinspirasi oleh kedua tokoh bernama nyaris serupa, Andrea Hirata dan Andreas Harsono. Keenam sosok tersebut beserta karyanya masing-masing telah mendapat tempat bermakna dalam hati saya sebab begitu banyak yang bisa dipetik, amanat, misi, pengalaman, pengetahuan yang tak bisa saya temukan hanya oleh pengalaman diri pribadi. Ah, saya mungkin terlampau naif. Namun, entah mengapa mereka begitu menginspirasi saya. Bahkan, dalam hati suatu saat saya bisa seperti mereka dengan karya-karya yang fenomenal. Bukan dalam artian, populer dalam masyarakat belaka tanpa esensi apa-apa. Melainkan saya ingin menghasilkan sesuatu yang bermakna, bernilai, dan berdampak buat masyarakat luas secara positif serta bersifat konstruktif. Sungguh, harapan saya tidak muluk. Saya bersyukut diberikan kesempatan bertemu keenam sosok tersebut, mempelajari karyanya dengan sungguh-sungguh. Sebab, semuanya akan kembali berpulang pada saya pribadi. Apakah saya akan berusaha, bekerja keras agar menjadi seperti mereka, atau sebaliknya. Semuanya ada di tangan saya Ah, saya takut jika semangat ini hanya berhenti pada sebatas tulisan tanpa ada jiwa yang menyertai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-6526781100227272966?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/6526781100227272966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=6526781100227272966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/6526781100227272966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/6526781100227272966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/dua-kawan-dua-andre-dan-dua-novel.html' title='Dua Kawan, Dua Andre, dan Dua Novel'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QHqbs8A3I/AAAAAAAAADE/NSYKWHzyN9g/s72-c/andrea+hirata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-7885373942488925675</id><published>2008-03-09T07:53:00.000-07:00</published><updated>2008-03-09T08:32:19.928-07:00</updated><title type='text'>Asyiknya Bernasyid</title><content type='html'>Saya punya grup nasyid. Namanya Rasi Voice. Belakangan ini, kami yang terdiri dari empat personel, Ryan, Amy, Sandy dan saya sendiri, Bhima, mulai sering latihan bersama. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P9o7s8AyI/AAAAAAAAACc/1mSU1tUwGaU/s1600-h/IMG_2383.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P9o7s8AyI/AAAAAAAAACc/1mSU1tUwGaU/s320/IMG_2383.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175759276441600802" /&gt;&lt;/a&gt; Pasti ada yang mengira nama RASI diambil nama personelnya, tapi kok berbeda? Pada awalnya, grup yang terbentuk pada tahun 2004 silam, ini memang terdiri dari empat personel. Tiga nama yang sudah disebutkan pertama di atas serta satu orang teman saya, namanya Irfan. Yup, pas sekali disebut dengan RASI. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P71bs8AxI/AAAAAAAAACU/kVQAOADL75E/s1600-h/a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P71bs8AxI/AAAAAAAAACU/kVQAOADL75E/s320/a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175757292166710034" /&gt;&lt;/a&gt; Pada latihan pertama, ada tiga orang yang kemudian diajak bergabung. Surya, Wahyu, dan saya sendiri. Kami bertujuh, kecuali Amy sempat masuk dalam Unitas Paduan Suara Mahasiswa Universitas Brawijaya. Dan, melalui unitas inilah kami semakin akrab dan dekat. Di penghujung 2004, kami sempat mengikuti kompetisi nasyid tingkat nasional yang diselenggarakan di Graha Medika. Menyanyikan lagu Ayah karya Suara Persaudaraan, penampilan kami yang berusaha optimal, tidak mampu menutupi rasa nervous. Alhasil kami hanya berhasil masuk tiga belas besar sebagai finalis saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk tahun 2005, personel kami satu per satu mulai rontok. Pertama kali, Surya berkata terus terang ingin mengundurkan diri. Dalam sebuah sesi curhat yang dibuat dramatis, dia sempat mengaku risau dengan keputusannya karena sangat menyukai kami. Namun, dia memilih untuk fokus dengan kuliahnya. Bahkan, ia juga keluar dari PSM. Selanjutnya, Irfan. Bagi kami, dia begitu istimewa. Bukan karena sikapnya yang memuja ketampanannya sendiri alias narsis, melainkan karena suaranya yang empuk didengar. Kegandrungannya pada Aguilera, membuatnya mampu mengolah improvisasi suara nan meliuk-liuk. Saya seringkali mengagumi suaranya yang lembut ketika bernyanyi. Tapi, hampir tidak pernah berterus terang di hadapannya. Takut dia semakin besar kepala. Yang jelas, dia salah satu sahabat yang kutemukan melalui nasyid ini. Kelak, dia punya peran dalam mewarnai hari-hariku selanjutnya pasca keluar dari Rasi Voice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami berlima yang melanjutkan latihan bersama. Sayang sekali, Wahyu tidak lagi bisa optimal. Banyak sekali yang dikeluhkannya, mulai dari merepotkan Ryan yang harus menjemputnya hingga sikapnya yang rendah diri, membuat kami akhirnya juga harus merelakan dia pergi. Sebenarnya, banyak sekali kisah-kisah mengenai dua orang sahabatku ini, Irfan dan Wahyu. Namun, karena terlampau banyak, perlu dijadikan satu tulisan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2006, kami mendapat dua job untuk tampil, yakni di acara mahasiswa Sastra Jerman serta diklat jurusan Perencanaan Wilayah Kota di Singosari. Kami berempat berusaha tampil maksimal. Namun, entahlah. Kami memang sudah latihan. Namun, seringkali ketika unjuk gigi, kurang bisa optimal. Toh, para penonton sudah memberikan apresiasinya walaupun mereka juga sama-sama mahasiswa. Yang terpenting bagi kami, Rasi Voice harus tetap bisa eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2007, kami tidak pernah bertemu kembali. Masing-masing anak memiliki kesibukan masing-masing. Amy menjabat sebagai Ketua Himpunan, Sandy bekerja di sebuah instansi serta pengerjaan skripsinya. Sedangkan Ryan juga padat dengan jadwal band dan kuliahnya. Lalu saya? Waktu itu, saya fokus dengan skripsi, jabatan sebagai Supervisor Marketing untuk Laboratorium Rekayasa dan Sistem Produksi Fakultas Teknologi Pertanian, serta magang di PT Coca Cola. Sebenarnya, saya masih bisa menyempatkan waktu sepanjang tahun itu. Namun, kami terlampau bergantung dengan Ryan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, Ryan ibarat kawan, teman, sekaligus sahabat. Dia pandai sekali mengaransemen musik. Saya hampir selalu tak pernah mendengar fals ketika ia bernyanyi. Suaranya merdu dan empuk. Karena kemampuannya, dia sempat meraih juara pertama pada lomba vokal di ajang PEKSIMINAS tingkat Provinsi Jawa Timur dan berhak untuk maju di tingkat nasional di Makassar. Saya telah menduga, suatu saat kelak ia pasti bisa jadi penyanyi profesional. Boleh dibilang, ia cukup lengkap jika hendak tampil sebagai seorang artis. Mungkin, satu-satunya yang kurang adalah wajahnya yang mungkin tidak terlampau menarik perhatian orang. Tapi, ketika ia sudah berdiri di atas panggung, dapat dipastikan tak ada seorang pun yang bakal melewatkan penampilannya. Dalam hal olah vokal, dia sangat menginspirasi saya. Namun, hingga kini, seberat apapun usaha saya, tak pernah bisa akan semerdu dan seempuk suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal perkenalan saya dengan dirinya, sosoknya yang dewasa terlihat dari kemampuannya berkomunikasi serta mengatur grup nasyid kami. Dia dijuluki anak-anak dengan ”Bu RT” karena kecerewetannya. Namun, jujur, jika tak ada dia, latihan kami tidak akan pernah bisa berjalan dengan mulus. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QCU7s8A0I/AAAAAAAAACs/aDGelePIK0c/s1600-h/DSC00151.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9QCU7s8A0I/AAAAAAAAACs/aDGelePIK0c/s320/DSC00151.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175764430402356034" /&gt;&lt;/a&gt; Ryan mampu memecah suara, memastikan setiap personel mendapatkan jatah dalam bernyanyi. Jika ada yang tidak enak alias fals, dia langsung tahu dan berusaha membetulkannya. Suaranya yang dahsyat kerap digunakan bukan sebagai vokal utama, namun malah menyokong suara-suara kami sehingga lebih kokoh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 2005-2006, hubungan kami berdua sangat intens dan akrab. Banyak hal yang kami lakukan secara bersama-sama. Mulai dari sekadar jalan-jalan, bercanda, tertawa, saling mengejek, makan lalapan di Dieng, bernyanyi, maen game, hingga bertukar pikiran membicarakan hari-hari ke depan. Tema kami beragam. Antara keluarga, keinginan, ambisi, relationship, juga kegelisahan dengan kondisi saat ini. Entah mengapa, setiap bertemu dengannya, selalu saja nuansa keceriaan dan kegembiraan yang terasa. Tidak ada perasaan boring sekalipun. Dia juga pandai menghibur dan tahu pada saat yang tepat untuk bercanda, memberi nasihat, atau pura-pura marah. Memang terkadang kami berselisih paham, namun cepat pula kami segera melupakannya. Dia berarti sekali buat saya, bahkan sudah seperti saudara. Kecocokan di antara kami ternyata membuat hubungan kami awet hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada nasyid. Sekitar empat minggu lampau, Sandy menelepon. Dikatakannya, ada job lagi. Namun kali ini tidak main-main. Ada sebuah stasiun televisi baru, namanya CRTV yang akan release bulan Juni-Juli 2008 nanti, menawarkan grup nasyid kami untuk bisa tampil mengisi acara mereka. Kebetulan, ayah Sandy menduduki jabatan sebagai sekretaris pada stasiun televisi tersebut. Tentu saja kami kaget. Ditinjau dari vokal, yang paling menonjol, tentu saja masih Ryan. Ditinjau dari materi lagu, kebanyakan kami masih menyanyikan lagu-lagu orang lain, seperti Raihan, SNADA, atau Suara Persaudaraan. Usai bertemu dengan pemilik perusahaan plus tim kreatif, kami dipersilakan untuk merekam lagu sendiri yang kemudian ditampilkan bersama dengan video klip yang dibuat menyusul. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P_lrs8AzI/AAAAAAAAACk/hAc8K9P9PX0/s1600-h/IMG_2386.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P_lrs8AzI/AAAAAAAAACk/hAc8K9P9PX0/s320/IMG_2386.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175761419630281522" /&gt;&lt;/a&gt; Segalanya berlangsung cepat. Hingga kini, masih dalam tahap proses rekaman lagu sendiri. Belum tahu pula bagaimana hasilnya. Yang pasti, masing-masing dari kami merasa, jalan ke arah yang lebih lebar telah terbuka luas. Tinggal bagaimana kami bisa memanfaatkannya. Makanya, belakangan ini kami getol berlatih seoptimal mungkin agar hasilnya bisa bagus. Tentu, tidak sesempurna artis-artis rekaman yang berlabel besar. Setidaknya kami sudah melangkah pada satu tahap yang lebih maju. Daripada, penampilan kami yang berkutat dari satu panggung ke panggung yang lainnya. Alhamdulillah ya Allah. Tak sabar menanti kisah hidup selanjutnya yang telah tertanam pada kalam-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-7885373942488925675?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/7885373942488925675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=7885373942488925675' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/7885373942488925675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/7885373942488925675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/asyiknya-bernasyid.html' title='Asyiknya Bernasyid'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R9P9o7s8AyI/AAAAAAAAACc/1mSU1tUwGaU/s72-c/IMG_2383.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-2533390714568265842</id><published>2008-03-05T21:21:00.001-08:00</published><updated>2008-03-05T21:40:45.903-08:00</updated><title type='text'>Kapankah FTP Punya Gedung Bagus?</title><content type='html'>Sabtu malam, tanggal 16 Februari 2008, saya bersama seorang kawan, Atika bertandang ke Fakultas Kedokteran Unibraw. Tujuan kami untuk meliput acara peresmian Gedung Pusat Kedokteran setinggi 7 lantai yang mulai dibangun pada 2006 silam. Berdasarkan penuturan dekan FK, dr Samsul Islam, pembangunan gedung ini menelan dana mencapai sekitar 17,5 miliar yang diambil dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Terbagi atas dua tahap dimana tahap pertama berupa pembangunan struktur dengan desain antigempa pada periode 16 September – 29 Desember 2006. Sedangkan, tahap kedua berupa finishing selama 180 hari, antara 21 Juni – 19 Desember 2007. Dengan luas total 10.346,7 m2 menjadikan gedung FK ini sebagai gedung termewah dan tercanggih di antara yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-BECwND1I/AAAAAAAAABc/Fu5fanBgY1A/s1600-h/RUANG+ADMINISTRASI.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-BECwND1I/AAAAAAAAABc/Fu5fanBgY1A/s320/RUANG+ADMINISTRASI.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174496403330502482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-B3ywND2I/AAAAAAAAABk/gusAZRYuJ6c/s1600-h/RUANG+DEKAN.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-B3ywND2I/AAAAAAAAABk/gusAZRYuJ6c/s320/RUANG+DEKAN.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174497292388732770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-CKCwND3I/AAAAAAAAABs/gUaRAVs8sJI/s1600-h/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+I.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-CKCwND3I/AAAAAAAAABs/gUaRAVs8sJI/s320/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+I.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174497605921345394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seusai acara pembukaan yang ditandai penandatanganan prasasti oleh Rektor Unibraw, Prof Dr Ir Yogi Sugito beserta dekan FK, dr Samsul Islam serta pengguntingan pita oleh Ibu Eny Sugito, para hadirin dipersilakan untuk meninjau ruangan di gedung tersebut. Para rombongan lalu menyaksikan ruangan demi ruangan setiap lantainya. Dimulai dari lantai enam, tersedia ruang auditorium, ruang komite, ruang seminar, hingga ruang tunggu persiapan. Dinding seluruh ruangan ini dilapisi papan khusus yang mampu berfungsi sebagai peredam suara. Di lantai lima, terdapat ruang para pimpinan. Mulai dari dekan, pembantu dekan, ketua program studi, administrasi umum, staff, serta roof garden. Yang menarik, desain untuk ruangan dekan dan para pembantu dekan dibuat berbeda. Semuanya tampak sangat mewah dan luks. Seperti menonton griya unik di acara televisi. Ruang dekan cukup lapang dengan fasilitas menunjang. Ruang pembantu dekan satu berwarna hijau pupus, ruang PD II berwarna merah marun, sedangkan ruang PD III berwarna ungu anggrek. Tata letak maupun pemilihan warna dilakukan cermat, sedetail mungkin. Tentu saja untuk menyegarkan mata serta memberikan efek nyaman, serasa di rumah sendiri. Selain itu, ruang administrasi juga cukup cantik. Para rombongan tak henti-hentinya berdecak kagum. Ada yang menyeletuk, “Kalau kaya gini, jadi betah di kantor terus. Emoh pulang..” Saya tersenyum, mengiyakan. Bagi yang penasaran, silakan dilihat gambar-gambarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-CKCwND3I/AAAAAAAAABs/gUaRAVs8sJI/s1600-h/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+I.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-CKCwND3I/AAAAAAAAABs/gUaRAVs8sJI/s320/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+I.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174497605921345394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DHCwND5I/AAAAAAAAAB8/qcX2w3R-eSA/s1600-h/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+III.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DHCwND5I/AAAAAAAAAB8/qcX2w3R-eSA/s320/RUANG+PEMBANTU+DEKAN+III.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174498653893365650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DbSwND6I/AAAAAAAAACE/qDX5X-4JSoU/s1600-h/RUANG+STAFF.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DbSwND6I/AAAAAAAAACE/qDX5X-4JSoU/s320/RUANG+STAFF.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174499001785716642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DwCwND7I/AAAAAAAAACM/r_hlrITgjV0/s1600-h/SEKRETARIAT.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-DwCwND7I/AAAAAAAAACM/r_hlrITgjV0/s320/SEKRETARIAT.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174499358268002226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut, di lantai empat, terdapat ruang kelas, ruang administrasi, lobby serta ruang tunggu. Desainnya standar tapi tetap berkesan elegan. Di lantai dua maupun tiga, hampir serupa. Terdapat ruang PBL (Problem Based Learning), ruang administrasi, ruang perlengkapan, serta ruang tunggu. Yang terakhir, lantai pertama terdapat ruang laboratorium bahasa Inggris, ruang komputer, kantin, musholla, UKM serta kamar mandi. Gedung ini juga dilengkapi fasilitas pendukung, seperti sistem penginderaan kebakaran berupa fire alarm yang sempat disimulasikan pada awal rombongan masuk meninjau gedung, transportasi vertikal, plumbing yang terdiri atas instalasi listrik, air, serta sampah, sistem informasi manajemen yang mengelola data terpusat, hotspot, televisi, dan telepon. Tak cukup lagi? Ada pula penangkal petir elektrostatik yang mampu menetralisir muatan listrik sehingga petir gagal menyambar dalam radius 200 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Cukup wah dan keren, bukan? Saya tak habis-habisnya mengagumi keindahan masing-masing ruangan. Terutama ruangan para pimpinan tersebut, dekan dan pembantu dekan yang so exciting... Jadi mengiri. Apakah nanti ruang kantorku juga akan seperti itu? Hm, I hope so.. Usai peninjauan seluruh rombongan berikut hadirin dipersilakan untuk ramah tamah alias makan bersama. Selanjutnya, menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan dalang sebanyak tiga orang yang beraksi berbarengan. Semuanya dari Kedokteran sendiri. Acara ini bisa dinikmati secara bebas oleh masyarakat luas beserta undangan. Mulai pukul 21.00, diperkirakan akan selesai dini hari sekitar pukul 03.00. Sementara aku, puas memotret dan wawancara, akhirnya pamit. Undur diri. Nonton wayang kulit? Pengin juga. Tapi, harus mengantar kawan pulang ke kosnya. Tak baik, pulang malam-malam. Apa kata tetangga? Hehe... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyusuri gedung-gedung di kampus tercinta ini, ingatanku membayang pada gedungku sendiri. Fakultas yang lainnya berlomba-lomba mendirikan gedung baru, bagaimana dengan FTP? Boro-boro, gedung baru, jurusan saja masih belum terintegrasi dengan sempurna. Fakultas juga masih terpisah. Kemahasiswaan sudah mulai dipindah, akademik masih di gedung lama. Sementara jurusan TIP? Ruang kelas memang cukup luas. Tapi, LCD seringkali harus mengantri ketika ada mata kuliah bersamaan. Sudah mulai ada pembenahan, serta penambahan fasilitas buat mahasiswa. Tapi, sebenarnya yang lebih penting lagi bukan hal itu. Melainkan, peningkatan pada kualitas civitas akademikanya. Mulai dari mahasiswa, dosen selaku pendidik dan pengajar, serta pegawai dan karyawannya. Seluruhnya harus terintegrasi menciptakan kualitas yang bagus dalam fungsi tiga pilar. Yakni, aspek pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat. Percuma juga punya gedung bagus, jika kualitasnya jelek. Tapi, bukan berarti gedung juga jelek. Tegasnya, fasilitas juga harus dipertimbangkan agar ketiga aspek tersebut bisa terpenuhi dengan baik kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya..Pikir saya lagi. Jika FTP punya gedung bagus seperti di FK itu, mahasiswanya bayar SPP berapa ya? Jangan-jangan jadi Rp 10 juta per semesternya? Wah-wah... Standar kedua fakultas ini cukup jauh jika hendak diperbandingkan. Jika mau komparasi, lebih baik dengan fakultas agrokompleks yang lainnya. Jangan FK, FIA, ataupun FE yang sebentar lagi juga hendak dilakukan peresmian. Dengar-dengar juga, PIS juga hendak melaksanakan peletakan batu pertama. Boleh juga, persaingan ini. Tapi, harapannya juga. Jangan sampai pembangunan gedung ini pada akhirnya membuat para penentu kebijakan, seperti dekan beralasan untuk menaikkan uang gedung mahasiswanya. Percuma juga kan? Mending kuliahnya outdoor saja, daripada di dalam kelas tapi tidak bisa membayar SPP...Setali tiga uang jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-2533390714568265842?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/2533390714568265842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=2533390714568265842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2533390714568265842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2533390714568265842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/kapankah-ftp-punya-gedung-bagus.html' title='Kapankah FTP Punya Gedung Bagus?'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R8-BECwND1I/AAAAAAAAABc/Fu5fanBgY1A/s72-c/RUANG+ADMINISTRASI.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-1542125773916367911</id><published>2008-03-05T21:18:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T21:20:51.510-08:00</updated><title type='text'>Undangan Interview, Psikotest, dan Sepotong Kenangan</title><content type='html'>Hari Senin kemarin, awal pekan ini, aku mendapat telepon dari Bu Agnes, pihak HRD dari tabloid Bintang Indonesia. Ia memintaku untuk datang pada sesi interview pada hari Jumat, 15 Februari 2008 di jalan Prof Dr Satrio Kavling 3-5 depan ITC Kuningan, Jakarta. Saat itu, aku hanya berusaha menyanggupinya tanpa tahu apakah aku benar-benar bisa atau tidak. Yang jelas, memang tidak bisa sebab pada hari yang sama aku harus menjalani prosesi yudisium. Sebelum dia menutup telepon, ditegaskannya bahwa aku harus datang. Dia lalu memberikan nomor teleponnya, 021-525xxxx. Sekali lagi, kubilang akan kuusahakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah, hari Jumat kulalui dengan penuh ketegangan untuk segera mendaftar wisuda bersama kawan-kawan yang lain. Usai membereskan beberapa dokumen yang masih membutuhkan tanda tangan, aku berupaya untuk menemui Bagian Kemahasiswaan Fakultas. Ternyata sudah tutup. Padahal saat itu masih sekitar pukul 13.35 siang. Aku langsung shock. Bagaimana bisa para pegawai sudah tidak ada di tempat ketika masih dibutuhkan oleh mahasiswa? Aku benar-benar tak habis pikir. Ketika itu juga aku mendapat telepon dari Bu Agnes lagi. Dia meminta kejelasan posisiku dimana. Tentu saja, aku bilang dengan sepenuh hati bahwa aku tidak bisa datang interview karena harus yudisium. Padahal, malam harinya aku memperoleh sms dari PT Santos Jaya Abadi agar mengikuti psikotest di gedung Fakultas Ekonomi Unibraw, hari Jumat juga, pukul 14.00 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku ingin sekali datang di tabloid Bintang Indonesia. Aku ingat benar pada posisi sebagai reporter film. Dulu, aku apply ke perusahaan tersebut dengan mengirimkan beberapa tulisan resensi film yang kukumpulkan melalui tulisanku di Friendster dan lainnya. Lucunya, sewaktu ibuku menelepon tentang hal ini, beliau menggoda diriku, “Reporter film? Wah, banyak ketemu artis ya..” Aku hanya tersenyum, yang jelas sekali beliau tidak tahu. Dalam hatiku, reporter film kan tidak selalu bertemu artis, paling-paling menulis resensi filmnya doank. Finally, aku segera cabut untuk menjalani psikotest. Sesampai di sana, ruangan sudah penuh. Sekitar seratus orang telah memadati ruangan tersebut. Baik pria maupun wanita berpakaian formal. Aku sendiri sebenarnya mengenakan hem lengan panjang, tapi dengan cuek jaket tetap kupakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal psikotest kali ini terbanyak dari soal yang pernah kuhadapi dimanapun. Pertama kali, kami diminta untuk mengisi semacam formulir yang berisi kolom tentang biodata diri, posisi kerja yang dimasuki, alasan apply, gaji yang diinginkan, pengalaman interview, pengalaman organisasi, penyakit yang pernah diderita, hingga kesukaan membaca dan jenis bacaan yang diminati. Dua kolom terakhir ini sesuai benar dengan hobiku. Aku jadi semangat. Tiba-tiba ingatanku melayang pada pertanyaan ketika aku di-interview di PT Sinarmas. Kemudian, kita diberikan satu bundel soal dan selembar kertas jawaban. Dengan dipandu pihak HRD, kita diminta untuk sesegera mungkin menjawab pertanyaan berupa pilihan ganda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya tidak salah, kumpulan soal pertama tentang pertanyaan biasa. Kumpulan soal kedua tentang pencarian sinonim. Soal ketiga, terkait dengan persamaan sifat dan makna. Soal keempat, tentang logika matematika alias deret. Soal keempat, tentang pengambilan makna secara general, contoh, pertanyaan : mawar-melati, dijawab : bunga. Soal kelima, pencocokan gambar. Soal keenam, perhitungan matematika. Soal ketujuh, apa ya? Maaf yang ini lupa banget. Soal kedelapan, penyesuaian bentuk balok dengan pelbagai bentuk sisi. Soal kesembilan, tentang penyesuaian bentuk bangun datar. Seluruh kumpulan soal ini dikerjakan tidak kurang dari lima menit dimana masing-masing ada dua puluh soal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, diberikan tiga buah kertas lagi. Yang ini tentang Wartegg Test alias menggambar pada delapan kotak yang telah berisi garis tipis, lengkung, bulat, dan sebagainya. Sama dengan tes yang lainnya. Kertas kosong satunya, diminta untuk menggambar bentuk pohon. Hanya ada syaratnya, pohon tidak boleh pisang, kelapa, bentuk perdu, bunga, rumput, jagung, beringin dan lain sebagainya. Ketat sekali syaratnya. Aku akhirnya memilih bentuk pohon mangga. Yang terakhir, seperti biasa diminta menggambar orang seutuhnya, diberi nama, profesi, jenis kegiatan, serta usia. Ah, seperti biasa aku menggambar sesuai dengan apa yang ada di kepalaku, sebuah profesi impian. Tepatnya, rahasia dong...Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 5 sore, semuanya sudah usai. Kulihat sekeliling ruangan, hanya ada aku, seorang pria di sebelahku, Vicky, temanku dari Fakultas Pertanian, serta dua orang cewek yang masih sibuk mengisi biodata diri. Dari sekian banyak, tinggal kami berlima? Tadi, aku memang datang telat sekali. Masa yang lainnya juga? Tapi, segera kupercepat dan kuserahkan lembaran jawaban beserta biodata pada pihak HRD. Sebelumnya, mereka sudah menerangkan, bagi yang lolos psikotest ini akan dihubungi secepatnya untuk menjalani sesi interview. Jika memungkinkan ada yang dipanggil untuk interview di kampus ini juga. Jika tidak, akan dipanggil ke kantornya, di Surabaya. Apakah aku berharap? Jujur, bahkan aku lupa posisi apa yang ku-apply. Gila bener, beberapa teman yang kuajak mengobrol juga mengeluhkan hal serupa. Ternyata aku tidak sendirian. Perlu diketahui perusahaan ini merupakan salah satu cabang dari Kapal Api Group yang bergerak pada industri consumer goods. Mulai dari kopi, susu creamer, dan lain-lain. Salah satu perusahaannya bertempat di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kota Pahlawan itu menyisakan beberapa kenangan dan pengalaman dramatis. Terakhir kali aku singgah ke sana, ketika mengikuti pelatihan jurnalistik akhir bulan Maret tahun 2007 silam di Universitas Airlangga. Sempat menginap di teras rumah sakit Dr Soetomo karena tidak mendapatkan tumpangan. Tapi besoknya, sempat keliling kota diantar panitia. Terima kasih buat Aam dan kawan-kawan. Toh, perjalanan ini juga tidak sia-sia. Beberapa hari lalu, mereka juga mengirimkan undangan untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lagi. Bedanya, kali ini para peserta disediakan akomodasi dan transportasi oleh panitia. Wah, sudah bukan waktunya lagi nie untuk mengikuti acara seperti itu. Walaupun Pak Farid Atmadiwirya, kepala Humas menawariku. Tapi aku harus mengalahkan egoku agar memberikannya pada anak-anak yang lain. Mereka juga butuh pengalaman dan kesempatan. Sudah bukan saatnya maruk. Haha, istilah yang terkadang membuatku risih. Tipis bedanya dengan ambisi. Maruk itu merugikan orang lain, ambisi itu tidak. Bagaimanapun, kenangan di Surabaya itu membangkitkan kesadaran bahwa panitia harus selalu berusaha melayani peserta sebagai tamu undangan sebaik-baiknya, meskipun dalam kondisi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang juga aku alami ketika mengikuti pelatihan serupa di Universitas Udayana, Bali. Bertemu dengan orang-orang ramah dan menyenangkan. Seperti Naning, Pam-Pam, Fajar, Burhan, Agus, Yogi, dan buanyak lagi lainnya. Yang paling terkesan dengan pengorbanan panitia adalah ketika Agus yang jelas-jelas lagi sakit demam dengan penuh semangat masih bersedia mengantarkan salah satu peserta untuk pergi ke tempat yang diinginkan, semisal beli pulsa atau ke toko. Dadaku berdesir mengingat keteguhannya sigap melayani para tamu walau berada pada titik lemah. Aku sendiri pun bila dalam posisi seperti dia, belum tentu bisa melakukan hal serupa. Salut dan angkat topi buat dirinya. Oya, ini kok jadi melantur kemana-mana ya? Seringkali memang jika bercerita, suka sekali aku mengkait-kaitkan dengan pengalaman yang kuperoleh sebelumnya. Bukan untuk menyombong, tapi sebagai sarana membangkitkan semangat dan menegur diriku sendiri yang kerap lalai dengan waktu yang sudah banyak terbuang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kaitannya dengan undangan interview dan psikotest? Aha, sebenarnya ilmu melayani dalam hal kepanitiaan juga bisa diterapkan ketika kita masuk ke dunia industri. Seperti ungkapan Bunda Theresa, hidup itu sebuah pelayanan. Bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja demi kemajuan perusahaan. Sebenarnya naif juga, hanya saja kondisi seperti ini memang tidak bisa berjalan simultan. Perlu sebuah proses panjang hingga dicapai suatu titik kesadaran. Duh, memang selalu mudah bicara teori dan rencana, aplikasinya belum tentu. Makanya, sampai kini aku tetap salut dengan orang-orang yang diberikan kebesaran jiwa melalui sikap pelayanan, tanpa pretensi apapun, bertindak seiring jiwa dan raganya secara holistik. Mungkin, berbeda dengan pendapatnya teman-teman yang lain. However, buat Agus Udayana, salut sama kamu bro...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-1542125773916367911?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/1542125773916367911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=1542125773916367911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1542125773916367911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1542125773916367911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/undangan-interview-psikotest-dan.html' title='Undangan Interview, Psikotest, dan Sepotong Kenangan'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-5079816732395376709</id><published>2008-03-05T21:16:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T21:17:52.261-08:00</updated><title type='text'>Wisuda yang Tertunda</title><content type='html'>Jumat kemarin, tanggal 15 Februari 2008, sekitar 20 orang mahasiswa dari program reguler, ekstensi, maupun diploma mengikuti prosesi yudisium. Acara ini ditandai dengan pemberian ucapan selamat dari pihak jurusan yang diwakili Bapak Aunur R Mulyarto serta Ibu Sri Maryani selaku pihak yang mewakili program diploma. Selain itu, juga dibacakan nama lengkap, tempat/tanggal lahir, IPK, judul skripsi, serta nama dosen pembimbing dan kategori kelulusan. Acara berlangsung cukup santai dan gayeng. Terlebih, di penghujung acara, para lulusan diberikan kesempatan untuk memberikan kesan sekaligus saran terkait evaluasi ke depan yang akan dilakukan pihak jurusan Teknologi Industri Pertanian. Beberapa hal yang disinggung, seperti pembentukan Alumni Center yang diharapkan mampu mewadahi para alumni untuk saling bertukar pikiran dan berkontribusi positif terhadap jurusan. Juga ada saran tentang penyelenggaraan stula, PKL, serta pembimbingan skripsi yang terstandarisasi. Just like a usual...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seusai mengikuti yudisium, anak-anak segera melebarkan sayap. Maksudnya, mendaftar wisuda. Sayang sekali, dokumenku masih kurang lengkap. Maka, aku segera pergi ke tempat fotocopy. Di sana, sudah ada Indah dan Trias yang juga tak kalah semangat. Dalam hati, aku tersenyum. Kondisi yang selalu mendadak, disadari tepat sebelum semuanya deadline. Tak jauh bedanya dengan siswa yang baru mempersiapkan diri dengan belajar padahal setengah jam kemudian ada ulangan. Kenapa sih nabyak-nabyak (apa sih bahasa Indonesianya yang asyik?) selalu ada di setiap tempat dan waktu? Benarkah habit ini susah sekali hilang? Sebenarnya ini kembali lagi ke diri masing-masing anak. Segala sesuatu yang bisa dipersiapkan dengan matang akan mempermudah segalanya. Tapi, kerapkali jadi slogan kosong. Ketika ada kejadian, selalu kembali lagi. &lt;br /&gt;Kelar fotocopy dan menempelkan foto, kami segera kabur ke Bagian Keuangan untuk membayar wisuda sebesar Rp 495.000,-. Besar sekali ya? Sebenarnya untuk apa pula biaya sebesar itu? Sayang, tidak ada rinciannya sama sekali. Aku juga hendak menanyakan hal ini. Pasalnya, di Fakultas Pertanian, biayanya tidak sebesar itu. Sekitar Rp 350.000,- saja. Nah, perbedaan yang cukup signifikan ini menggelitikku dengan pelbagai pertanyaan yang belum tuntas sepenuhnya. Jadi, kepingin menyelidiki nih...Ketika hendak membayar biaya legalisasi ijazah, kami diminta sebesar Rp 15.000,- serta menunjukkan memo dari Bu Tukinah, staf Akademik dari Fakultas. Hah, memo? “Apakah tidak bisa tanpa adanya memo?” tanyaku yang kemudian dijawab dengan sebuah gelengan. Nah, ini yang menyulitkan. Bu Tukinah saat itu sedang melayani mahasiswa yang registrasi di lantai tiga. Apa kami harus menunggu beliau untuk mendapatkan sebuah memo saja? Jelasnya, iya, dengan huruf kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan lunglai kami segera ke lantai atas. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 lebih. Di ruangan registrasi, sudah tampak wajah teman-teman kami yang bernasib serupa. Antara lain, Anggun, Mey, Trias, Pras, Berizka, Ubed, Lilis, dan aku sendiri. Yang lainnya, tidak ada yang tahu. Masalahnya, antrian mahasiswa yang registrasi masih cukup panjang. Kami harus bersabar, meski juga gregetan dengan dada was-was dan harap-harap cemas. Apakah bisa? Itu yang menjadi inti pertanyaan dalam hati kami semua. Sementara itu, aku sempat mendengar curhat Mayang yang harus membayar Rp 600.000,- sebagai biaya registrasi padahal dia tinggal ujian skripsi. Aku berusaha menenangkan dirinya, padahal dalam hatiku tak kalah deg-degan. Dia lalu – seperti biasanya – tersenyum tipis seolah menegaskan bahwa dia akan selalu baik-baik saja. Namun, matanya tetap tidak bisa dibohongi. Sedangkan, Adi, salah satu temanku yang paling unik dan baru saja registrasi, haha...sori Adi, selalu menyemangatiku. Loh, kok terbalik? Hehe, harusnya aku yang menyemangati dia. Tapi, entahlah. Pertemuan kami selalu diwarnai dengan pertengkaran penuh canda dan ucapan selamatnya yang terkadang membuatku jengkel, “Kapan wisuda?” Lalu kujawab pasti, doakan secepatnya ya Adi. Kamu cepetan nyusul...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu yang kemudian menghantuiku lagi. Di satu sisi, Mey yang duduk di sebelahku tak henti bercerita tentang kepasrahan. Halah, kami lalu mengobrol bersama mengenang ketika kami yang menurut rencana bisa yudisium bulan Januari lalu, harus tertunda satu bulan gara-gara dosen. Aku tentu saja tak hendak menyalahkan karena toh segalanya telah berlalu. Aku hanya bisa introspeksi, ini mungkin salahku juga. Tapi, rasanya tidak adil sekali, jika oleh karena hal itu, membuatku tidak bisa cepat-cepat segera ikut wisuda. Sedangkan, Mey terkendala oleh jilidan skripsinya yang tak bisa tepat waktu. Yang membuatku tersenyum penuh ironi adalah Lilis. Kami bertiga memang hampir ikut yang bulan Januari. Tapi, kondisi Lilis cukup fatal. Nilai TOEFL-nya yang berkutat pada 447 – dia dua kali ikut dan dapat nilai sama persis – membuat kami menyindir, dia sudah mendapatkan angka keberuntungannya. Yang kutimpali, “Tapi kenapa ya angka itu disusun 447, bukannya 474?” Kami tertawa bersama. Akhirnya, dia dapat juga nilai yang diinginkan, lebih dari 450. Kembali pada Mey lagi. Aku lalu berusaha menghiburnya. “Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika ternyata tidak bisa, berarti kita memang masih belum beruntung.” Mey menukas, “Tapi kenapa selalu terjadi? Mulai dari yudisium kemarin..” Aku menggelengkan bahu. Entahlah, kawan. Aku juga tidak tahu. Rencana Allah kerapkali datang tanpa kita duga sebelumnya. Mungkin saja ini termasuk dalam rencana-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu semakin mepet. Sebentar lagi istirahat Sholat Jumat. Antrian menipis pasti. Aku segera menyerobot satu anak cewek yang masih mengantri. Sebelumnya, dia memang mempersilakanku untuk duluan. Kami lalu berbarengan menyatakan maksud kami untuk mendapatkan memo tersebut. Bu Tukinah segera memberikan secarik kertas kosong yang telah diisi dengan tanggal dan parafnya. Masing-masing anak memperoleh satu untuk diisi dengan nama sekaligus NIM. Dengan cepat, kami menuju Bagian Keuangan yang ternyata sudah tutup. Terang saja, sudah waktu istirahat kok. Aku lalu pulang buat jum’atan di Al Istiqomah, dekat kos. Usai sholat, sempat kuambil foto 3x4 dan 4x6 berwarna di tempat affdruk. Aku lalu segera ke Bagian Keuangan buat membayar. Di sana sudah ada, Indah dan Nurila. Menyusul kemudian, Anggun dan Berizka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami menunggu Bu Tukinah lagi untuk menyerahkan nota. Ketika beliau muncul, dengan ringan dikatakannya, “Nanti ya..Jam setengah empat. Habis registrasi.” Aku kaget. Harus menunggu selama itu? Tapi, aku tidak bisa memaksa. Dia memang harus bertugas. Yang kusesalkan adalah mengapa dalam kondisi seperti ini tidak ada orang yang bisa mewakili Bu Tukinah menjalankan tugasnya? Or she’s the only one people who can handle it...? Aku tidak percaya itu. Sempat kusampaikan pada Berizka. Lalu, aku bermaksud menuju Bagian Kemahasiswaan Fakultas yang sudah dipindah di gedung Politeknik. Ruangan di sana tampak lengang dan kosong. Ada beberapa kardus bertumpuk. Serta sebuah meja dan beberapa perkakas. Seorang pria – maaf, aku tidak tahu namanya – berpakaian motif garis hijau menyampaikan padaku bahwa pegawai Kemahasiswaan sudah pada pulang. Dia lalu menuntunku menuju ruangan tersebut. Pintu terkunci. Di luar ada sebuah papan bertulis agenda kegiatan yang disandarkan pada sebuah lemari. Aku heran. “Padahal baru jam segini lho, Pak? Kok sudah pulang semuanya ya?” Ia menggeleng. “Kami mau daftar wisuda sekarang, Pak. Jika tidak, kami tidak bisa ikut bulan Maret ini,” kataku. Dia sekali lagi menggeleng dan menyarankanku untuk datang besok lagi. “Bapak, besok kan Sabtu...” ucapku menyadarkannya. “O ya, berarti Senin saja,” katanya ringan. Aku tersenyum kecut. Apa masih ada harapan? Aku kemudian pamit. Saat itu, handphoneku berbunyi. Ada telepon dari HRD tabloid Bintang Indonesia (baca juga : Undangan Interview, Psikotest, dan Sepotong Kenangan). Aku ingat, juga ada jadwal psikotest Pukul 14.00, siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, aku kirim sms dengan Berizka maupun Mey untuk mendaftarkanku sekalian pada Bu Tukinah. Karena aku tidak bisa terus stand by di tempat menunggu beliau. Lalu, aku mengikuti psikotest yang selesai pada Pukul 17.00. Di sela-sela mengerjakan soal, aku sempat berkirim sms dengan Mey tentang hasilnya. Selama psikotest, handphoneku memang kumatikan. Sehingga aku baru membaca sms masuk usai psikotest, dalam perjalanan menuju Humas. Isinya, mengabarkanku bahwa tidak ada anak yang bisa wisuda bulan Maret. Mas Eko Fakultas bilang pada kami bahwa kuota telah mencukupi. Aku lemas. Terlebih sedetik kemudian ayahku menelepon menanyakan prosesi yudisium dan psikotest. Tak lupa, “Kapan wisudanya?” Hm, sebuah pertanyaan yang entah mengapa membuatku jadi paranoid. Intinya, aku tak tega dengan orang tuaku yang mengharapkanku segera wisuda. Duh, maafkan aku ayah dan ibu. Hingga detik ini aku belum berani jujur sama mereka. Rencananya, besok Senin aku mau mengecek lagi ke fakultas. Setelah benar-benar habis kuota, aku baru menelepon orang tua. Semoga mereka mampu mengerti dan memahamiku sepenuhnya. Dan, semoga juga, wisuda bisa diadakan lagi besok bulan April, harapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-5079816732395376709?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/5079816732395376709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=5079816732395376709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/5079816732395376709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/5079816732395376709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/wisuda-yang-tertunda.html' title='Wisuda yang Tertunda'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-970002296115699561</id><published>2008-03-05T21:13:00.001-08:00</published><updated>2008-03-05T21:15:48.345-08:00</updated><title type='text'>Dua Hari Melelahkan</title><content type='html'>Hari Rabu, tanggal 13 Februari 2008 silam aku pulang kampung. Sebenarnya, mulai dari pagi, ada beberapa aktivitas yang harus kuselesaikan. Hal ini terkait dengan deadline tugas. Tidak ada waktu untuk menunda. Semakin dibiarkan lama akan semakin menumpuk sehingga pekerjaan akan terasa kurang efektif, hasilnya juga tidak optimal. Kondisi ini terjadi manakala aku belajar dari kesalahanku selama ini. Dekat-dekat dengan waktu pengumpulan tugas, malamnya baru melembur. Setelah itu, besoknya jadi, namun hasilnya hanya lumayan saja. Ah, terkadang walaupun sampai sekarang aku sudah berusaha meminimalisir, tapi susah sekali. Kebiasaan deadline masih seringkali terjadi. Hehe, mengapa ya sulit membiasakan diri padahal demi kebaikan kita sendiri? Perlu usaha lebih untuk memaksa diri mematuhi janji dalam diri dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, malam hari Rabu, aku bersama seorang kawan, Atika datang ke rumah sastrawan ternama, Ratna Indraswari Ibrahim. Beliau tinggal di rumahnya yang asri nan bergaya kolonial, di Jalan Diponegoro. Tempatnya persis di sebelah Masjid Sallahudin dan Sekolah Musik Gita Narwastu. Kedatanganku ini terkait tujuan wawancara untuk memenuhi tugas dari pihak Humas membuat buku 45 tahun Universitas Brawijaya. Jadi, selain beberapa pemaparan tentang profil kampus secara general, termasuk juga prestasinya serta seabreg bahasan lain, diselipkan pula komentar dari pihak-pihak yang telah banyak berkontribusi buat Unibraw. Nah, salah satunya Mbak Ratna, panggilan akrab anak-anak mahasiswa pada dirinya. Tujuannya, agar dapat komentar yang bukan hanya posifif, melainkan juga berupa saran konstruktif demi evaluasi ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditemui, beliau masih mengobrol lama dengan seorang kawannya. Kami lalu menghabiskan waktu sejenak dengan melihat-lihat buku yang terpajang di Tobuki, Toko Buku Kita. Toko ini dikelola secara swadaya oleh Mbak Ratna beserta beberapa orang rekannya. Tema buku yang dijual cukup luas, namun berdasarkan pengamatan, sekitar 85% tentang sastra dan sosial budaya. Ada beberapa novel yang menarik perhatianku, salah satunya berjudul In Cold Blood, karya Truman Capote. Berkisah tentang penyelidikan investigatif kasus pembunuhan di Holcum, Kansas. Buah penanya ini menandai awal kebangkitan jurnalisme sastrawi, selain karya John Hersney “Hiroshima” yang ditasbihkan sebagai karya jurnalistik terbaik dari 100 tulisan pada era kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Mbak Ratna. Kami lalu berbincang seru seputar tentang Universitas Brawijaya. Bagaimana dulu ia sempat berkuliah di FIA pada 1964 lalu drop out karena tidak menemukan kesesuaian. Ia lebih memilih untuk berkonsentrasi menulis. Hingga pada kritiknya terhadap teknokrat yang jarang mau menulis, khususnya di media mainstream, semacam Kompas atau Jawa Pos. Ia sangat menyayangkan hal ini. Seharusnya, agar Unibraw mau dikenal masyarakat secara luas, harus disertai dengan tindakan nyata. Minimal dengan publikasi tulisan, memberi saran terhadap isu-isu nasional yang marak terjadi. Ia juga menengarai sikap apatis mahasiswa sekarang lebih disebabkan pada fokus pada kegiatan kuliah agar tepat waktu. Sayang, dari sisi kualitas menjadi tidak matang. Berbeda dengan kondisinya dulu yang berkuliah dalam periode lama sehingga pengalaman lebih terasah. Juga nuansa kebersamaan yang kental tidak lagi dijumpainya pada mahasiswa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai wawancara, kami mohon diri. Beliau sempat wanti-wanti agar kami berkenan hadir pada acara pembacaan puisi dari pegiat seni, Saut Situmorang yang digelar besok hari Minggu, akhir pekan ini. Aku berusaha menyanggupinya walaupun tidak menjanjikan. Kubilang mungkin anak-anak unitas akan aku kabari juga. Ia melepas kami setelah sebelumnya, aku sempat mengambil fotonya dari pelbagai angle. Beliau wanita luar biasa dengan seabreg pengalaman dan prestasi karya sastra. Di antaranya, pernah memperoleh predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI pada 1994 dan pernah menghadiri Kongres International Women di Beijing, Cina bersama dengan Ibu Sri Kumalaningsih, dosen pembimbing skripsiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, hari Rabu, aku datang ke Gedung PascaSarjana untuk meliput ujian disertasi Ir Bambang Pujiasmanto MS dan Ir Pardono MS. Kegiatan peliputan seperti ini adalah tugas yang selalu kujalani dengan senang hati, meskipun terkadang terasa juga monotoninya. Cukup membosankan, bagi yang menganggapnya ini bagian dari rutinitas. Tapi jika melihatnya dari sisi ilmu, sungguh pengalaman yang amat sangat berharga. Banyak hal yang bisa dipetik dari hasil disertasi ini, mulai dari metode penelitian, semangat kerjanya, kesibukannya sebagai dosen dan kepala keluarga yang seringkali menyita waktu, hingga pada keberhasilan meraih gelar secara tepat waktu. Ada dosen yang bagus banget struktur tulisannya hingga aku terlongong membaca ringkasan disertasinya. Ada pula yang kualitasnya biasa, tapi orangnya berdaya humor luar biasa hingga acara ini menjadi ajang refreshing yang menarik. Ada pula, dosen yang kuat di riset dan detail penulisan, tapi dewan penguji dengan lihai masih menemukan celah yang membuat calon doktor ini tidak mampu menjawab secara mulus. Beragam karakter ini memperkaya khasanah pengalamanku bahwa calon doktor juga manusia, meminjam istilah Seurius Band. Ia sama saja dengan mahasiswa S1 yang nervous ketika ujian skripsi, bahkan jawabannya terkadang juga tidak masuk logika. Ah, bedanya memang pada hal pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal melakukan peliputan disertasi tertutup di Fakultas Pertanian, aku mendapat satu kejadian menarik. Bu Sri Kumalaningsih yang kerap menjadi dosen pembimbing calon doktor itu memandang kehadiranku dengan pandangan aneh. Ketika aku menghadapnya kemudian, ia langsung memberondongku dengan beragam pertanyaan. Selain itu, juga meminta aku konfirmasi tentang statusku di sana. Aku lalu berusaha senatural mungkin menjawab, walau di satu sisi takut juga. Jangan-jangan ia memintaku untuk bersikap dan menjawab seperti calon doktor itu. Bah, mana mungkin? Lha wong, waktu itu sarjana saja belum. Hehe, but it’s so excited experiences... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, sudah melebar kemana-mana ya. Lanjut soal ujian disertasi. Biasanya seusai meliput, aku memotret calon doktor itu sendirian dengan background dinding berwarna netral, biasanya putih gading atau krem. Selanjutnya, aku meminta buku ringkasan yang akan kucatat kemudian. Setelah itu, mendengarkan hasilnya seperti IPK berikut masa studinya. Kelar dengan semua itu, hadirin dipersilakan untuk makan bersama secara prasmanan. Ini yang aku suka, haha...Tapi, seringkali menunya itu-itu saja. Toh, tetap enak dan mengenyangkan kok. Kembali ke Humas sudah pukul 13.00 lewat. Itu artinya aku harus segera mengerjakan tulisan agar bisa segera pulang kampung. Sori banget, tujuan pulang kampung tidak dijabarkan dari awal. Untuk mengambil uang buat daftar wisuda hari Jumat usai yudisium. Nah, itu rencananya. Okelah, sampai sini akan kususun timeline activity-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 13.00 : Sampai di Humas, lalu segera mengetik hasil disertasi.&lt;br /&gt;Pukul 16.45 : Tulisan baru kelar, sudah dikirim via online. Bisa langsung diupload.&lt;br /&gt;Pukul 17.05 : Tiba di kost, langsung mandi. Mampir ke kosan teman sebentar, pamitan.&lt;br /&gt;Pukul 17.35 : Naik angkot, tujuannya ke terminal Arjosari.&lt;br /&gt;Pukul 18.05 : Sempat ketiduran di angkot, lalu masuk terminal dan naik bus jurusan Blitar.&lt;br /&gt;Pukul 18.20 : Bus berangkat. Aku sempat memeriksa isi tas, ada novel Tsotsi, dompet, dan kacamata.&lt;br /&gt;Pukul 20.05 : Turun di terminal Blitar, menanti bus selanjutnya.&lt;br /&gt;Pukul 20.20 : Berangkat ke terminal Tulungagung.&lt;br /&gt;Pukul 21.30 : Sampai di terminal Tulungagung, lalu ganti bus lagi.&lt;br /&gt;Pukul 21.45 : Ada yang tanya pada sopir, jam berapa ke Trenggalek. Dijawab, jam 11 malam.&lt;br /&gt;Pukul 22.05 : Aku membunuh waktu dengan membaca novel Tsotsi.&lt;br /&gt;Pukul 22.30 : Mulai terasa membosankan, para penumpang berteriak tidak sabar.&lt;br /&gt;Pukul 22.50 : Aku hampir membaca novel Tsotsi separuhnya. Rasanya geram.&lt;br /&gt;Pukul 23.15 : Masih belum berangkat. Para penumpang mengomel.&lt;br /&gt;Pukul 23.20 : Mulai berangkat. Ibuku menelepon, setengah mengeluh kok tidak sampai-sampai.&lt;br /&gt;Pukul 23.45 : Turun di Durenan.&lt;br /&gt;Pukul 23.55 : Tiba di rumah dengan selamat.&lt;br /&gt;Pukul 00.00 : Mengobrol dengan keluarga.&lt;br /&gt;Pukul 00.55 : Sempat melanjutkan novel Tsotsi yang telah kubaca sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;Pukul 01.05 : Tidur.&lt;br /&gt;Pukul 05.15 : Bangun pagi.&lt;br /&gt;Pukul 05.55 : Berangkat lagi ke Malang.&lt;br /&gt;Pukul 10.45 : Tiba di terminal Gadang.&lt;br /&gt;Pukul 11.15 : Tiba di kosan lagi. Ah, rasanya unbelievable. Di rumah hanya numpang tidur doank.&lt;br /&gt;Pukul 11.30 : Mengedit tulisan di Surat Lamaran Kerja, rencananya mau datang di Job Fair.&lt;br /&gt;Pukul 12.55 : Ngeprint di rental.&lt;br /&gt;Pukul 13.45 : Fotocopy di Masjid Raden Patah. Suer, yang ikutan antri banyaknya gak ketulungan.&lt;br /&gt;Pukul 14.15 : Baru bisa selesai fotocopy berkas.&lt;br /&gt;Pukul 14.20 : Masuk di gedung Samantha Krida. Sendirian. Melihat-lihat pameran.&lt;br /&gt;Pukul 15.00 : Merapikan dokumen sekaligus setor ke beberapa perusahaan.&lt;br /&gt;Pukul 15.45 : Keluar dari gedung Samantha Krida, ke Humas.&lt;br /&gt;Pukul 18.45 : Tiba di Kos.&lt;br /&gt;Pukul 19.42 : Dapat undangan psikotest dari PT Santos Jaya Abadi, besok Jumat, pukul 13.00&lt;br /&gt;Pukul 20.05 : Menonton American Idol, haha...sempat-sempatnya.&lt;br /&gt;Pukul 22.00 : Membuat mie instan, makan barengan temen kos.&lt;br /&gt;Pukul 23.15 : Tepar. Kelelahan. Tidur. Pulas. Nyenyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, besok harinya kan hari Jumat. Langsung yudisium deh. Ceritanya, nanti to be continued ya. Lanjutnya, pada tulisan berjudul Wisuda yang Tertunda dan Undangan Interview. Bagi yang berminat membaca tulisan ini, silakan dibaca, dan ambil pengalaman positifnya. Jika terasa biasa-biasa saja atau bahkan annoying, saran saya, jangan dibaca daripada bikin sakit perut. Terlebih jadi tidak selera makan. Wah, jangan sampai begitu. Nasi lalapannya Mbak Evy masih enak kok. Tapi, setidaknya saya sudah sharing dengan teman-teman sekalian seluruh pengalaman saya, baik yang senang maupun sedih. Bagi yang menuliskan komentarnya, saya berikan apresiasi setinggi-tingginya. Gudlak buat kita semuanya, temen-temen TIP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Abhiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-970002296115699561?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/970002296115699561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=970002296115699561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/970002296115699561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/970002296115699561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/03/dua-hari-melelahkan.html' title='Dua Hari Melelahkan'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-1301755557846975428</id><published>2008-02-11T03:02:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T03:04:06.354-08:00</updated><title type='text'>Beware with What U’re Writing</title><content type='html'>Hobi setiap orang sudah pasti akan berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing. Namun, siapa nyana jika sebagian besar para pelamar kerja, mencantumkan hobinya di Curriculum Vitae dengan tulisan “membaca”. Nah, apakah mereka sudah pasti punya minat yang sama dengan apa yang tertulis? Itu urusan masing-masing. Tapi, hati-hati saja jika ternyata apapun yang Anda tuliskan di Curriculum Vitae akan selalu ditanyakan secara mendetail oleh pihak perusahaan, khususnya interviewer. Oleh sebab itu, jangan terlampau mudah, apalagi sembarangan ketika menulis daftar riwayat hidup.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Seperti kejadian salah satu temenku yang pernah mengikuti interview di salah sebuah perusahaan. Katakanlah, namanya “X”. Dia sangat menyukai fotografi. Tanpa diduga, hobinya tersebut bakal menjadi batu sandungan yang lumayan menyulitkan ketika ditanya interviewer. Simak berikut ini :&lt;br /&gt;“Apa hobi Anda?” tanya interviewer.&lt;br /&gt;“Hobi saya fotografi, Pak.” Jawab X.&lt;br /&gt;“Sejak kapan punya hobi seperti itu?” tanya interviewer lagi.&lt;br /&gt;“Wah, sudah lama, Pak. Sejak SMA.”&lt;br /&gt;“Berarti sudah lumayan berpengalaman ya?”&lt;br /&gt;“Ya...” nada suara gamang, tidak begitu jelas.&lt;br /&gt;“Biasanya foto dimana?” &lt;br /&gt;“Biasanya di gunung sambil menunggu sunset,” kata X lagi.&lt;br /&gt;“Yang lainnya?”&lt;br /&gt;“Di manapun, cari angle yang menarik.”&lt;br /&gt;“O, begitu. Terus, pakai kamera apa?”&lt;br /&gt;“Pakai kamera SLR.”&lt;br /&gt;“Bukaan berapa? Ukuran lensanya berapa? Diafragmanya gimana?” pertanyaan bertubi-tubi.&lt;br /&gt;“....” diam sejenak.&lt;br /&gt;“Bagaimana?”&lt;br /&gt;“Hm, kalau tidak salah sih...ukurannya 6..” jawabnya ragu-ragu.&lt;br /&gt;Suasana hening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, langsung lanjut dengan pertanyaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan minat, apalagi bakat. Hehe, mengerikan ya? Sebenarnya, tidak juga. Hal, ini tergantung pada apa yang Anda tuliskan. Sekali lagi, yang Anda tuliskan. Saya juga akan menceritakan pengalaman teman saya tentang apa yang sudah dituliskan. Namun, kali ini tidak ada kaitannya dengan minat maupun hobinya. Sebut saja namanya “N”. Ia menuliskan tentang apa yang tidak disukainya, yakni deadline. Saat itu, ia menjalani sesi interview di salah sebuah perusahaan TV swasta terkenal di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda menuliskan, hal yang paling tidak disukai itu deadline. Benar begitu?” tanya interviewer.&lt;br /&gt;“Benar, Pak.” Jawab N sambil mengangguk.&lt;br /&gt;“Padahal, seperti Anda ketahui, perusahaan kami akan selalu berbenturan dengan deadline. Dan, setiap pekerjaan yang ada, harus selalu dipertanggungjawabkan secara tepat waktu. Tentunya, hal itu tidak terlepas dengan yang namanya deadline. Bagaimana pendapat Anda akan hal ini?”&lt;br /&gt;“...”teman saya diam sejenak, menata nafas. Dalam hatinya, “Waduh, kena kamu.” &lt;br /&gt;Lanjutnya, “Maksud saya ialah saya tidak suka dengan deadline jika tidak sesuai dengan kemampuan saya. Namun, saya tetap mengerahkan seluruh kemampuan saya seoptimal mungkin. Jika terkena deadline, saya memang kurang mampu bekerja secara total. Bagaimanapun, apa yang saya kerjakan tetap akan saya pertanggungjawabkan dengan baik.” N menjawab diplomatis.&lt;br /&gt;Interviewer mengangguk-angguk saja.&lt;br /&gt;“Dengan demikian Anda menegaskan tidak suka deadline, kan?”&lt;br /&gt;Teman saya terdiam, tanpa mengangguk atau mengiyakan.&lt;br /&gt;(Perhatian : Wawancara di atas sudah melalui modifikasi dan improvisasi dengan sedikit perubahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menjawab toh juga sudah menjawab, mau mengeles (ini bahasa Indonesianya apa?) toh juga sudah tertulis. Jadi, ia memegang teguh pepatah “Silent is Gold”. Hehe, aku pun jika berada dalam posisinya juga akan berbuat hal serupa. Tujuannya, untuk meminimalisir kesalahan yang diperbuat. Terus terang, terkadang kita belum mampu memperkirakan hal apa saja yang terjadi jika kita menuliskan hal yang seperti ini. Sebab, semuanya belum terbayang sama sekali. Seiring waktu akan semakin banyak pengalaman yang terjadi sehingga kita akan makin awas serta waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Biasanya, dengan banyak pengalaman juga kita malah akan mampu membaca pikiran interviewer untuk menebak apa saja yang akan ditanyakan. Istilahnya,            Practice makes perfect. Berbincang-bincang dengan rekan sesama pelamar juga akan memberikan masukan yang positif dan konstruktif agar kita menjadi lebih siap dan pe-de. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya, memang kita harus mempertanggungjawabkan apa saja yang sudah kita tuliskan. Sama halnya dengan sewaktu ujian skripsi bagi yang sudah menjalaninya, atau mungkin seminar hasil atau proposal. Sama saja. Bedanya, interview itu memerlukan sesuatu hal ‘lebih’ dari Anda sebagai calon pegawai yang akan di-hire oleh perusahaan. Apa yang mau Anda ‘jual’? Kemampuan yang seperti apa? Jangan sampai Anda tidak bertanggungjawab dengan Curriculum Vitae, atau malah membohongi. Seperti, menulis pandai komputer program Minitab ataupun Adobe Illustrator atau Auto Cad atau Catia, contohnya. Tetapi, ketika dites, Microsoft Office Excel saja masih perlu waktu untuk mengoperasikan. Hehe, sebenarnya saya juga takut dengan hal ini. Makanya, sebelum melamar, asahlah dulu kemampuan Anda. Klasifikasikan juga mana yang sesuai dengan Anda. Jika melamar ke perusahaan yang berkaitan dengan teknologi pangan, seperti PT GarudaFood, atau PT Indofood Sukses Makmur, atau PT Nestle, bidang Quality Control atau Research and Development, sertifikat yang mendukung juga perlu dicantumkan, seperti pernah menjadi asisten Laboratorium Rekayasa dan Sistem Produksi. Yang lainnya, pernah mengikuti seminar nasional “Teknologi Pangan”, kuliah tamu “Teknologi Fermentasi”, short course “Halal dan Hygiene Food”. Atau jika pernah mengikuti pelatihan ISO 9001:2000, ISO 14001:2004, HACCP, dan lain-lain. Jujur, yang terakhir ini saya belum punya. Jadi, untuk sementara belum bisa saya lampirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun, jika Anda tertarik melamar ke perusahaan PT HM Sampoerna, PT Bentoel, PT Aneka Kompos Bagas, bidang manajemen, silakan juga sertakan sertifikat yang berhubungan. Seperti pernah menjabat sebagai asisten Laboratorium Manajemen dan Sistem Industri, atau pernah mengikuti kuliah tamu “Teknologi Informatika”-nya Onno W. Purbo, atau sempat ikut kursus desain grafis atau program MYOB, semuanya saling bersinergi dan bisa mendukung. Dan, ketika melamar ke bank Mega Internasional, BNI ’46, BRI, BTN Syariah, jangan lupa sertakan sertifikat pernah mengikuti kursus Bank Syariah (kalau ikut), dan lain-lain. Yang jelas, jangan sampai terbalik. Ketika hendak melamar bidang QC, ternyata hanya melampirkan sertifikat pernah mengikuti seminar nasional, itupun berkaitan dengan Kependudukan, misalnya plus asisten Sistem dan Teknologi Informasi. Tetap akan dipertimbangkan, hanya memang bukan prioritas yang utama. Bisa jadi diurutkan menjadi kedua terakhir dari seribu lima ratus surat yang masuk. Hal ini, tentu saja bisa dilakukan pengecekan sebelum mengirim surat. Dan, jangan terlampau banyak melampirkan piagam atau sertifikat yang dimiliki. Cukup yang utama saja. Jangan sampai perusahaan mengira Anda seperti mengirim bundel majalah yang baru saja dijilid. Hehe...Nanti eman-eman kalau dikiloin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim via internet alias e-mail juga perlu teknik tersendiri. Banyak sekali tips dan trik yang bisa Anda dapat dari mengunduh internet. Sebelumnya, uraikan surat lamaran kerja Anda pada badan surat elektronik. Nah, biasanya tinggal attachment yang berjumlah lima file. Pertama, lampirkan curriculum vitae Anda yang sudah diberi foto berwarna Anda berpakaian jas rapi. Kedua, scan ijasah terakhir Anda. Ketiga, scan transkrip nilai Anda. Keempat, sertifikat paling bernilai buat Anda. Kelima, piagam penghargaan yang paling bagus buat Anda. Perhatikan juga ketentuan tentang maksimal kapasitas file yang biasanya tertulis di lowongan kerja. Biasanya sih tidak lebih dari 100 kb, sebab jika terlampau banyak, download file menjadi lebih lama sehingga perusahaan akan malas membukanya. Oya, tiba-tiba ingat lagi. Teman saya pernah mengirim file Word 2007. Ternyata, ia baru sadar, Word 2007 tidak bisa dibuka pada Word 2003. Harap diingat, hampir seluruh perusahaan saat ini masih mempergunakan Microsoft Office 2003. Jadi, jangan coba-coba, biar terlihat keren pakai Word 2007, eh..tak tahunya malah tidak bisa dibaca. Begitu sekelumit tips yang bisa Anda coba terkait dengan pengiriman via email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali masalah pengalaman teman-teman saya yang di atas. Demikianlah pengalaman teman-teman saya tentang apa yang sudah dituliskan dan pengalaman ketika mengirimkan surat lamaran kerja. Mungkin, masih banyak pengalaman Anda ketika berhadapan dengan interviewer, lalu ditanya macam-macam. Dan, sudah banyak juga pengalaman Anda ketika mengirimkan surat lamaran kerja, baik menggunakan e-mail atau via pos. Semuanya akan menjadi pengalaman yang sangat berharga, terlebih dengan cara belajar dari pengalaman orang lain. Satu lagi, jika ada perusahaan yang menyediakan alamat e-mail, sebaiknya memang menggunakan fasilitas tersebut, selain lebih irit, juga efisien, cepat dan mudah. Tidak perlu banyak ongkos. Jika tidak diberikan fasilitas alamat email, melainkan PO BOX serta alamat perusahaan, pengiriman via pos tetap yang utama. Hanya saja, jangan lupa, perhatikan sungguh-sungguh profil perusahaan dan posisi yang Anda apply, sebelum mengirimkan surat lamaran kerja. Hal itu untuk menghindari sesuatu terjadi di luar dugaan sehingga meminimalisir hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-1301755557846975428?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/1301755557846975428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=1301755557846975428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1301755557846975428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/1301755557846975428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/02/beware-with-what-ure-writing.html' title='Beware with What U’re Writing'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-3323703774947605748</id><published>2008-02-11T02:58:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T03:01:46.934-08:00</updated><title type='text'>Apa Favoritmu?</title><content type='html'>Belakangan ini, dunia sastra, khususnya, dihebohkan oleh munculnya novel yang sungguh sangat fenomenal – mungkin teman-teman yang mengikuti perkembangan beritanya sudah tahu – Laskar Pelangi. Karya seorang karyawan PT Telkom yang sama sekali tidak pernah bergelut di bidang kepenulisan atau sastra sama sekali, Andrea Hirata. Sosok yang sampai kini tetap rendah hati, bersahaja, dan penuh dengan ide-ide luar biasa. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, dulu sebelum novelnya meledak, profil Andrea sudah wara-wiri diulas di pelbagai media cetak maupun elektronik. Bahkan sempat diwawancarai Andy F Noya dalam Kick Andy di Metro TV. Namun, saya masih belum sepenuhnya bergeming. Hingga suatu saat, pada hari Sabtu, tanggal 26 Januari 2008 kemarin ketika berkunjung ke TB. Toga Mas, saya melihat tumpukan novel-novel best seller, ada Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Ada lagi novelnya Habiburrahman El Shirazy yang juga tak kalah fenomenal, Ayat-Ayat Cinta –bahkan sudah difilmkan oleh Hanung Bramantyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya termasuk orang yang harus tahu dengan apa yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan orang. Padahal, saya sama sekali belum baca novelnya, meskipun masyarakat maupun media dengan penuh semangat membicarakan kedua novel yang so amazing ini. Maka, jadilah. Saya terkena ‘imbas’ hegemoni media yang dengan luar biasa mencitrakan novelnya sebagai yang terdepan, teratas, plus penuh dengan amanat. Bahkan, dikisahkan sampai ada yang menangis, tidak tidur semalaman, atau yang lebih heboh, seorang anak jadi sadar dengan pendidikannya hanya karena membaca Laskar Pelangi. Siapa yang tidak merinding dengar kisah seperti ini, oleh novel karya anak bangsa? Padahal pasca hadirnya novelis wanita yang mengumbar seksualitas, emansipasi, seperti Ayu Utami, Fira Basuki atau Dewi ‘Dee’ Lestari, seolah novel di Indonesia bercitra gelap dan dianggap ‘rendah’. Hingga kemudian marak chicklit dan teenlit yang disukai gadis-gadis remaja oleh keringanan ceritanya. Baru saya tahu, ternyata ada juga novel berkualitas yang laris di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca dua-duanya, Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta, baru saya tahu mengapa banyak orang sampai minta hingga difilmkan segala. Laskar Pelangi bertema besar tentang pendidikan, sedangkan Ayat-Ayat Cinta bertema besar keteguhan cinta yang ditulis dengan bahasa puitis, bersayap, dan mendayu-dayu. Bagi saya pribadi, Ayat-Ayat Cinta kurang begitu bagus. Maaf, sebelumnya jika ada yang langsung komplain. Bagaimana mungkin jika novel yang ditasbihkan sebagai novel terlaris pertama mengalahkan Harry Potter dibilang kurang begitu bagus? Namanya interpretasi bisa saja berbeda setiap orang. Bagi saya, Ayat-Ayat Cinta terlampau sempurna untuk ukuran manusia di bumi, dengan alur hidup tokoh utama yang di mata saya terlampau perfect (mana ada tokoh seperti Fahri di zaman sekarang yang serba beruntung dicintai oleh empat wanita sekaligus dan semuanya cantik-cantik?), dengan kondisi hidup yang dramatis – ingat, dijebak oleh wanita yang mengaku dihamili olehnya sehingga ia harus masuk penjara? Hm, selain itu, saya juga kurang begitu suka dengan gaya bahasa yang digunakan Kang Abik, panggilan akrab novelis ini, sebab terlampau transparan, tidak ada diksi yang menggoda, apalagi susunan kata lincah yang membuat efek emosional. Semuanya menjadi datar dan hambar, biasa saja. Meskipun begitu, karena oleh muatan dakwah Islaminya yang cukup kental, tidak terasa nuansa menggurui, novel ini tetap terbilang sebagai a must read book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ke Laskar Pelangi. Novel ini berkisah tentang persahabatan sepuluh orang di SD Muhammadiyah, daerah Belitong, yang selalu bersemangat dalam menempuh pendidikannya dan bercita-cita menjadi orang sukses. Bu guru Muslimah dan Pak Hanafi, sang kepala sekolah turut menempa pengetahuan anak-anak tersebut. Perlu diketahui, novel ini merupakan pengalaman hidup Andrea Hirata sendiri. Di sini, ia tidak banyak diceritakan, ia hanya berkisah tentang teman-temannya. Yang mengharukan, anak bernama Lintang – jeniusnya luar biasa – tetap bisa tertawa-tawa, meskipun menempuh jarak sejauh 80 kilometer pulang pergi hanya dengan mengayuh sepeda, lalu hanya sempat bernyanyi “Padamu Negeri” di akhir pelajaran sekolah karena telat. Ada lagi anak yang lainnya, yang tetap semangat meskipun kondisinya benar-benar kekurangan. Tapi, dari semuanya yang membuatku tiba-tiba berefleksi dan kontemplasi adalah ketika Lintang yang putus sekolah – padahal sebentar lagi ujian nasional SMP – sebab ayahnya meninggal. Ia menjadi figur penopang ekonomi keluarganya sehingga harus keluar sekolah, mencari penghidupan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, aku tersadar oleh kondisi tersebut. Betapa tidak adilnya kondisi seperti ini. Saya seperti ditampar sekeras-kerasnya. Bisa jadi, di dekat kita, sebelah kost, di perkampungan kumuh, berdesak-desakan anak-anak kecil yang tidak bisa bersekolah dan menanti uluran tangan kita semua. Ketika membayangkan hal tersebut, tentu saja saya termasuk kaum yang diberikan keberuntungan luar biasa, mampu bersekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, kemudian duduk di bangku kuliah. Sempat mengenyam bangku pendidikan, sementara jutaan anak-anak lain bekerja keras membanting tulang tanpa pernah tahu rasanya duduk diajar pelajaran Biologi, teori evolusi Darwin, teori ekonomi John Maynard Keynes, mengerti kisah inspiratif Hellen Keller, diagram Cartesian, menelusuri keindahan museum De Louvre, Madame Tussaud, memahami komponen listrik, semikonduktor, Coppernicus, postulat Newton, hingga berkelana menembus imaji padang sahara, Terusan Panama, segitiga Bermuda, atau Karl May yang asyik dengan senapan peraknya. Ah, dan apa yang bisa saya perbuat? Sudah saya pergunakan apa saja kesempatan yang telah diperoleh? Saya hanya duduk diam tanpa mengenal sepenuhnya hal tersebut. Padahal dengan kesempatan tersebut, saya seharusnya bersyukur lalu mengikuti pelajaran dengan riang gembira, tekun dengan pelajaran, meraih cita-cita setinggi langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya merasa tertampar. Rasanya keberuntungan saya belum cukup untuk menembus semua itu. Bagaimana bisa saya yang diberi kemudahan dalam menuntut ilmu masih bermalas-malasan, tidak semangat? Bahkan, menghafal sebisanya? Kuliah hanya pada saat dibutuhkan, tidak mengerjakan tugas, ogah-ogahan mendengarkan pelajaran dosen. Sedangkan, yang lainnya malah sudah berjumpalitan bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Kondisi kontras ini membuat perut saya serasa diaduk. Munculnya novel ini seperti membuka pikiran saya bahwa pendidikan di Indonesia memang masih terlampau mewah bagi anak-anak miskin seperti mereka. Novel ini juga membuka mata saya bahwa jangan terlalu menjadi sosok individualis yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkutat dengan pencarian kerja yang memaksa diri juga sebagai perwujudan hal tersebut. Terlebih lagi bekerja secara brutal tanpa memikirkan orang lain, apalagi masyarakat. Diri kita terlampau berharga untuk kita habiskan sendirian. Sudah sepatutnya kita juga sediakan waktu buat mereka yang membutuhkan, senyampang masih ada waktu, lebih baik tenaga, dan pikiran juga ada buat orang lain. Bahkan, dengan berpikiran seperti itu, juga akan mampu membuka rezeki kita dalam meraih pekerjaan yang diinginkan. Waduh, jadi seperti menggurui ya? Saya hanya curhat saja sesungguhnya. Kenapa sih kita seperti sibuk mencari identitas diri sendiri hingga dibutakan oleh kondisi sekitar kita? Cobalah lihat di sekitar kita dengan kondisi sosial yang perlu dengan uluran tangan. Pernah saya dulu mencoba terjun dalam bidang kesehatan, hanya saja kekurangan tenaga, sehingga akhirnya putus di tengah jalan. Banyak yang bisa dilakukan, semisal mengajar anak-anak kurang mampu atau terjun di dalamnya. Ah, saya hanya membayangkan saja. Jika satu orang dermawan tergerak karena membaca novel Laskar Pelangi ini. Dan, banyak sekali yang kemudian bakalan tergerak, pasti Indonesia tidak lama lagi bakal bangkit dari kemiskinan. Sungguh, novel yang mampu mencerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, tujuannya tulisan ini apa? Maaf, jadi agak melantur. Nah, setelah saya baca keduanya, Laskar Pelangi memang lebih nampol. Bahasanya lugas, diksinya cantik, alurnya tidak terduga, dan yang penting membawa misi tentang pendidikan. Ternyata, anak kecil pun sudah sadar akan arti pentingnya pendidikan. Hampir mirip dengan film Denias Senandung Di Atas Awan. Hanya saja, novel ini bercerita tentang satu grup anak-anak dengan segala latar belakang dan kisah masing-masing. Di bagian ending novel juga diulas sekilas tentang profesi masing-masing anak kala sudah dewasa. Yang membuatku kaget bukan alang kepalang, ketika Ikal, panggilan Andrea Hirata, mendapati Lintang sedang bekerja sebagai sopir pengangkut barang. Astaganaga, sosok jenius itu, yang putus sekolah, yang mampu membungkam guru sekolah favorit dengan argumennya tentang cincin Newton saat lomba cerdas cermat, yang menjadi andalan SD Muhammadiyah, yang dicintai teman-teman sekolahnya, yang menggerakkan mimpi teman-temannya untuk selalu memiliki cita-cita setinggi langit, yang bekerja demi keluarganya, yang terseok-seok bersekolah dengan menempuh 40 kilometer, yang tetap tersenyum dalam kondisi sesulit apapun, yang ditangisi seluruh teman-temannya dan guru sekolah ketika berpamitan putus sekolah- rasanya membuatku harus trenyuh, tak tahu apalagi yang kuperbuat. Andai dia meneruskan sekolah, dengan otak cemerlangnya itu, ia pasti bisa jadi doktor, profesor yang berhati tulus, mulia dan berusaha memajukan pendidikan bangsanya ini demi kemaslahatan umat. Orang seperti itu jauh lebih punya nilai daripada wakil-wakil rakyat saat ini yang terlampau memuja dirinya, merasa penting, padahal tak ubahnya seperti tikus yang menggerogoti duit rakyat, mengkhianati amanah rakyat yang diembankan kepadanya. Lalu berjalan-jalan ke luar negeri, meminta fasilitas berlimpah, dan asyik tidur ketika rapat berlangsung. Potret buram majelis perpolitikan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak kata-kata Lintang pada Ikal ketika mereka bertemu di salah sebuah toko serba ada di Jakarta. “Sudahlah, Ikal. Jangan menangis. Memang ini rezekiku, “ kata Lintang pada Ikal, lalu diusapnya air mata di pipi Ikal. Waktu itu, Ikal membayangkan, andai Lintang meneruskan sekolahnya, andai...hanya andai saja, sebab hal itu tak pernah terwujud, dan Lintang masih terseok dengan usahanya sebagai buruh, memeras keringat mengejar setoran. Ah..mereka orang pandai yang kurang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, teman-teman, jika ada yang suka membaca, silakan luangkan waktu untuk membaca novel ini, Laskar Pelangi. Salah sebuah novel yang mengguncang, memberikan amanat tentang pentingnya pendidikan. Seusai membaca ini, teman-teman akan tergerak untuk segera menyelesaikan pendidikan dan memberikan sesuatu yang bernilai demi kemajuan bangsanya. Atau, mungkin kalian malah punya novel sendiri yang bernilai untuk kehidupan sendiri? Atau, buku komik, atau yang lainnya? Apapun itu, yang jelas setiap apa yang kita baca, diharapkan mengandung nilai kebermanfaatan yang positif. Jangan sampai hanya mengandung kesia-siaan belaka tanpa ada yang bisa dipetik, diambil manfaatnya. Hanya teman-teman sendiri yang mampu menginterpretasikan, lalu memetik amanat yang terkandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-3323703774947605748?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/3323703774947605748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=3323703774947605748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/3323703774947605748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/3323703774947605748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2008/02/apa-favoritmu.html' title='Apa Favoritmu?'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-2750549636734032951</id><published>2007-11-20T01:42:00.000-08:00</published><updated>2007-11-20T01:45:12.748-08:00</updated><title type='text'>Masa Lalu dan Bayang-Bayang</title><content type='html'>Masa lalu seperti sebuah bayang-bayang yang selalu menemani kemanapun kita pergi, ataupun melangkah. Bahkan sekalipun hanya bergerak. Dia bisa membuat kita yakin dalam perjalanan namun bisa pula akan selalu menghantui kita jika kita menganggap bayang-bayang itu makhluk hitam, besar, nan mengerikan. Ia tidak bisa dihilangkan, tidak pula bisa dihapus meskipun hanya sebagian kecil, sepotong, atau secuil.&lt;br /&gt;Masa lalu akan selalu bergeser seiring langkah kita. Ia melekat dan menempel kuat. Ia ada untuk mengiringi kita, mengambil kesimpulan, lalu menyelaraskannya dalam harmoni kehidupan kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;Masa lalu bukan sebagai kenangan yang menyakitkan hingga kita selalu merasa sesak seperti terkurung oleh kotak Pandora yang membelit jiwa ataupun sebagai sebuah romantisme yang terlalu menyesatkan dan membuai hingga kita tidak lagi mampu melangkah ke depan. Menatap masa depan, hari-hari selanjutnya. Ia bahkan membantu kita, berusaha mengingatkan kita sebagai hamba Allah yang fana dan penuh dosa agar berusaha  selalu mengambil sisi positif dari apapun yang telah terjadi di masa lalu. Sebuah hikmah agar kita mampu terus belajar dari seluruh jejak langkah yang telah terukir dalam kehidupan kita. Apakah itu membekas penuh luka serta terlampau manis. Kita tak hendak terlampau memuja masa lalu sebab kita hidup di masa kini agar selalu berusaha lebih baik lagi menuju masa depan. Dan, masa lalu berfungsi sebagai landasan agar kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang bersyukur dengan selalu mengingat-Nya serta memohon agar Dia menjaga kita dari jebakan masa lalu yang terlalu membelit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-2750549636734032951?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/2750549636734032951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=2750549636734032951' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2750549636734032951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2750549636734032951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2007/11/masa-lalu-dan-bayang-bayang.html' title='Masa Lalu dan Bayang-Bayang'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-4431296966549554807</id><published>2007-11-20T01:41:00.001-08:00</published><updated>2007-11-20T01:41:39.327-08:00</updated><title type='text'>Hari Pahlawan and The Movie Part II</title><content type='html'>Pada tulisan sebelumnya, sudah dijabarkan alasan saya menonton film yang pada awalnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan Hari Pahlawan, apalagi tersangkut paut dengan masalah nasionalisme, apalagi patriotisme dan sejenisnya. Keinginan saya menonton film ini murni oleh gerakan bawah sadar saya yang menginginkan sebuah hiburan di kala hari libur dan kebetulan pula pada tanggal  10 November. Ah, terus apa yang membuat saya tercerahkan oleh film-film ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Big Fish, membuat saya sontak teringat dengan kondisi ayah saya di rumah yang juga masih dalam kondisi sakit. Bagi saya, ayah saya adalah pahlawan saya, pejuang bagi saya, yang seluruh hidupnya dipergunakan untuk memperjuangkan hidup dan nasib keluarganya. Di mata saya, ayah merupakan sosok heroik yang tanpa banyak basa-basi lebih kelihatan tindakannya daripada sekadar berbicara yang tanpa makna. Memang, manusia tak ada yang sempurna. Tapi yang saya ingat, dari seluruh hidupnya, beliau sudah terlampau lelah memikirkan nasib keluarga, terlebih anaknya. Ketika masih kecil, yang paling saya ingat, beliau selalu menyempatkan diri sepulang kerja – dalam kondisi lelah – berbelanja sejenak ke salah sebuah swalayan terdekat untuk membeli mainan. Sepanjang perjalanan itu, biasanya saya dipanggul di atas. Tentu, banyak sekali mainan yang saya miliki karena hampir setiap hari saya mengajak beliau untuk pergi keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lainnya, setiap pagi saya juga terbiasa meminta ayah saya membuatkan satu gambar tentang hewan atau benda hidup. Entah apapun itu. Di mata saya, gambar ayah selalu bagus dan seolah-olah ‘bernyawa’. Saya senang sekali membayangkan pada suatu hari nanti, gambar-gambar – khususnya hewan itu – tiba-tiba hidup dan menjadi kawan bermain saya. Sementara itu, saya ciptakan imajinasi tentang hewan yang jahat sehingga kawan-kawan saya, hewan yang baik bisa melawannya dan membela saya. Ikan hiu dan buaya yang sedang bergelut dan perlambang kota Surabaya yang digambar ayah saya masih tersimpan rapi dalam ingatan saya, bahkan hingga saat ini. Ah…terlampau banyak kenangan, namun bagi saya, ayah juga teman, kawan, sekaligus ayah saya yang terbaik. Beliau pencerita yang baik – selalu sabar menemani anaknya belajar dan bertanya akan hal apapun bahkan hingga larut malam sekalipun. Sewaktu kecil, saya juga suka mencatat kata-kata dan istilah sukar yang saya dapatkan dari majalah Gatra maupun Tempo. Kemudian saya suka sekali mendiskusikannya dengan ayah, lalu mencatat setiap keterangan yang beliau berikan lengkap dengan contohnya. Ibu seringkali sebal dengan kami berdua yang berbicara ramai sehingga mengganggu tidur malam beliau. Namun, beliau maklum dengan kondisi ini. Ah, maafkan saya Ibu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu juga, saya berangan-angan suatu saat nanti harus membuat buku tentang apapun, yang penting memiliki makna bagi saya sendiri. Bahkan dulu saya juga sudah membuat semacam platform untuk judul buku apa yang akan saya buat, berikut dengan sub judulnya Yang saya ingat, berkaitan dengan sosiologi dan permasalahan yang terkait dengan kondisi masyarakat dan kultural. Sungguh, bagi saya, ayah saya lebih dari seorang pahlawan nan heroik, karena beliau memang pejuang untuk keluarganya, khususnya anak-anaknya. Jika dalam film Big Fish, ayahnya pencerita yang baik, maka dalam kehidupan nyata, ayah saya jauh lebih lihai dan mumpuni dalam hal bercerita. Beliaulah yang patut diberikan gelar selengkap-lengkapnya di mata saya dalam keluarga kami karena melalui cerita beliau, kedewasaan dan usia saya teriring bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Queen, lebih mendekati tentang makna nasionalisme dan patriotisme. Kisah seorang ratu dari dinasti terbesar sepanjang sejarah dunia yang dituntut agar mampu menyesuaikan idealismenya dengan perubahan zaman dan modernisasi. Bagaimana istana yang selama ini ditata dengan gaya konservatif harus mampu melebur dengan kondisi global masyarakat Inggris yang haus akan setiap detail kehidupan keluarga kerajaan. Seperti sebuah babak baru kehidupan selebritis, tak pelak mereka juga harus menyesuaikan dengan kondisi ini. Bagaimana bersikap dan berperilaku, semuanya akan dapat sorotan publik sebab kehidupan mereka ibarat seperti dalam rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme macam apa yang diuji terhadap ratu yang anggun namun keras hati ini? Ketika kematian menantu yang menjadi kesayangan rakyat negerinya dan seluruh dunia, namun sangat dibencinya, Putri Diana. Saat inilah idealismenya harus diuji, ketika perbenturan terjadi secara tajam antara keinginannya dengan keinginan rakyatnya. Sang rakyat menuntut atas perubahan kondisi elementer dalam keluarga kerajaan, agar ratu bersikap lunak kepada People’s Princess – istilah buat Lady Di yang diciptakan oleh Tony Blair – sehingga kecaman tidak lagi mengalir. Namun, beliau dituntut juga harus membawa nama keluarga kerajaan, sebuah system monarki yang usianya terbentang lebih dari sepuluh dekade. Dia tidak bisa didikte, dia harus melawan. Toh, dia penguasa kerajaan sekaligus rakyatnya. Tapi, kondisi seperti itu berlaku hanya dahulu kala ketika raja atau ratu merupakan penentu kebijakan tunggal sehingga rakyat musti patuh dan tunduk. Penguasa absolut yang berkedok bahwa perintahnya sekaligus titah yang berasal dari langit, Tuhan penguasa alam. Sekarang kondisinya tentu berbeda, ketika rakyat di atas segalanya, ketika kehendak rakyatlah yang berkuasa dan menentukan segala sesuatu berikut juga tentang keluarga kerajaan. Ah, dilematis memang, ketika di satu sisi ratu ingin meneruskan tradisi kerajaan yang kukuh oleh benteng konservatif dan di sisi lainnya ia harus mengakomodasi kebutuhan rakyatnya. Lagipula, bukankah sudah tugasnyalah sebagai ratu dalam mengayomi rakyatnya dan memenuhinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warganegara, ratu memiliki hak istimewa. Namun, bukan berarti sebagai ratu juga ia menafikan keberadaan sekaligus posisinya di mata rakyat. Ia hanyalah salah satu gelintir manusia yang kebetulan terlahir sebagai keluarga kerajaan dan penerus titah kekuasaan sebelumnya. Ia hanya menjalankan system yang sudah ada dan meneruskan segala tradisinya. Ia hanyalah seorang warganegara yang berkewajiban sama dengan warganegara lainnya. Bedanya sekali lagi, ia seorang ratu. Bagaimana atribut nasionalisme dilekatkan pada dua warganegara jenis ini? Antara ratu dengan warganegara lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan BBC Michael Ignatieff menulis dalam bukunya, Blood and Belonging : Journeys Into the New Nationalism, bahwa secara kultural nasionalisme sesungguhnya bisa memberi sebuah “bentuk kepemilikan” atau “primary form of belonging” kepada orang-orang yang tinggal di satu negara, baik laki-laki maupun perempuan. Rasa memiliki dan rasa kebersamaan ini memberikan landasan moral “bagi pengorbanan yang heroik, penggunaan kekerasan dalam rangka membela negara dari musuh, baik dari luar maupun dari dalam”. Ignatieff membedakan dua macam nasionalisme : Pertama, nasionalisme kewarganegaraan [civic nationalism] dimana kepercayaan utama orang-orang dalam sebuah “bangsa”, yang percaya pada kredo poliitk “bangsa” itu adalah para warganegaranya. Basis nasionalisme ini adalah warganegara. Kedua, nasionalisme etnik [ethnic nationalism] dimana orang-orang dalam suatu “bangsa” percaya bahwa mereka mewarisi kebangsaannya karena keturunannya, bukan karena pilihannya. Basis nasionalisme ini adalah etnik. “Pada dasarnya, komunitas nasional itulah yang mendefinisikan individu, bukan individu yang mendefinisikan komunitas nasional. [It is the national community which defines the individual, not the individuals who define the national community],“ jelas Ignatieff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari sini, untuk memberikan atribut nasionalisme antara kedua warganegara tersebut, jelas sekali jatuh pada pilihan pertama. Kondisinya akan berbeda ketika terjadi perpecahan yang menuntut disintegrasi pada suatu bangsa. Contoh terjelas ialah ketika terjadi tuntutan rakyat Aceh yang menginginkan kemerdekaan sendiri. Alasan yang dikemukakan ialah bahwa warganegara mereka bukan karena sebuah pilihan, melainkan ada oleh keturunan dan etnik. Bahwa sejarah turun temurun akan berkisah, kondisi rakyat tersebut sudah berbeda dengan bangsa Indonesia, dan kondisi ini dipendam rapat-rapat. Bahkan pasca darurat militer tahun 1990–an yang diberlakukan sewaktu pemerintahan Soeharto berkuasa, [Ulasan yang lebih lengkap ada pada artikel tentang Nasionalisme dan Rakyat Aceh] permasalahan ini makin merebak, ditunjang oleh perilaku tentara TNI yang berkedok mengamankan, namun malah membuat masalah. Sebut saja, penjarahan, penggeledahan paksa, pelecehan seksual, bahkan pemerkosaan. Akibatnya, banyak terjadi pengungsian besar-besaran keluar dari Aceh. Nah, yang saya garis bawahi di sini adalah setiap warganegara sebenarnya berhak atas nasionalisme-nya sendiri. Pembungkaman yang dilakukan untuk menyalurkan aspirasi akan mengebiri hak-hak individual sebagai warganegara. Bukannya melestarikan bibit-bibit separatisme, namun di sini perlu ditekankan sebagaimana asap yang takkan keluar tanpa ada api, maka bibit itu muncul jika tak ada sebabnya. Kemunculan itulah yang harus perlu ditelusuri mengapa sebabnya. Luka yang hanya disembuhkan sekilas, takkan bisa bertahan lama sembuhnya. Kesembuhan hanya terjadi pada permukaan, sebagaimana fenomena gunung es. Untuk itulah, perlunya kondisi dimana penanaman nilai-nilai nasionalisme harus diberikan semenjak dini. Setiap individu mesti punya pilihan dalam memutuskan apakah dirinya nasionalis atau bukan, tergantung pada kebutuhannya, jika ternyata dia bukan, apakah sikap ini muncul atas dasar tekanan, paksaan, ataukah dari diri sendiri. Semuanya perlu mengejawantah dalam dirinya secara benar. Rumusan ini susah jika disamaratakan pada setiap warganegara sebab tak mungkin meminta seluruhnya agar cinta pada bangsanya secara utuh tanpa sebab.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan muncul nasionalisme? Apa hanya karena saya tinggal di negara tanah lahir saja? Atau karena memang keinginan dan hasrat saya dengan sepenuh hati? Sebab memaknai nasionalisme secara parsial, hanya akan menciptakan kesemuan belaka yang tanpa ada jawabannya secara tuntas. Perlunya pemaknaan kembali nasionalisme seharusnya tercipta sejak dini, ketika anak belajar mengenal tanah airnya dengan mendalam. Bukan hanya dikenalkan lewat doktrin-doktrin buku pelajaran belaka yang bahkan – penulisnya sekalipun tidak tahu makna dan artinya. Jika hendak memberikan pelajaran soal ini, seharusnya belajar bagaimana menghargai pahlawan secara benar, dengan cara belajar mengenal buadaya, suku bangsanya sendiri, daerahnya sendiri, belajar menghargai orang lain, dan bahasanya sendiri. Seluruhnya dikenalkan secara terpadu. Namun, jangan lupa pemberian contoh nyata jauh lebih efektif daripada hanya sekadar memberikan wejangan [Lebih lengkap ada pada artikel Pemaknaan Kembali Nasionalisme]. Ah, apa mungkin Taufik Ismail benar juga ketika ia menulis “Aku Malu Jadi Orang Indonesia”. Ungkapan ide dan ekspresinya membuktikan ia sebenarnya ingin sekali mengungkapkan cinta Indonesia. Ungkapannya ini dibuktikan lewat tulisannya yang berharap bukannya orang lain jadi seperti dirinya, melainkan menumbuhkan minat agar orang lain peduli terhadap bangsanya sendiri. Sebab siapa lagi yang bakal peduli dengan bangsanya selain bangsanya sendiri. Orang-orang apatis hanya akan berkedok dia peduli, tapi di belakang dia malah merugikan bangsanya sendiri. Pencitraan yang dilakukan hanya kamuflase belaka yang menipu rakyat Indonesia. Inilah yang disebut pengkhianat bangsa, ia telah mengkhianati perjuangan Soekarno, Hatta, dan Sutan Syahrir dalam merebut kemerdekaan dari penjajah. Ironis sekali memang, jika para pejabat meminta seluruh rakyat – khususnya rakyat yang rentan dengan disintegrasi seperti Aceh ataupun Papua – agar menggalakkan jiwa nasionalisme, tetapi dia mengeruk harta rakyat sendiri. Bahkan menjual bangsa kepada negara lain dalam bentuk privatisasi atau meminta bantuan dan mengemis dana pinjaman. Sebab nasionalisme memang bukan muncul atas dasar paksaan, namun atas dasar kesadaran yang membangkitkan sikap cinta tanah air. Peduli kepada bangsanya sendiri, peduli akan kemajuan bangsa, menuju cita-cita luhur bangsa Indonesia agar kesejahteraan rakyat dapat tercapai, kecerdasan bangsa, dan melakukan swadaya di seluruh lini kehidupan. Untuk itulah, nasionalisme bukanlah tumbuh atas dasar keturunan, sebab ia melekat pada masing-masing individu, dan seiring kedewasaan ia mencapai wujudnya dengan memilih. Apakah ia nasionalis atau pengkhianat bangsanya sendiri?&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Dan, rakyat Inggris pun juga sama ketika ditanya soal nasionalisme. Bahwa mereka peduli kepada ratunya sebagaimana mereka peduli kepada negaranya sendiri. Mereka mengharapkan perbaikan, penyesuaian dengan nilai-nilai modernisasi. Tak mungkin bukan idealisme konservatif akan dapat bertahan untuk seterusnya tanpa mengalami adaptasi? Sebab, tidak ada yang mengalami perubahan selain perubahan itu sendiri. Dan, ratu Inggris pun memilih dirinya agar dapat mengayomi rakyat dan memenuhi keinginan mereka. Bukan apa-apa. Nasionalisme itu dapat disederhanakan dengan kepedulian kepada bangsanya sendiri. Jika ia tak lagi peduli, maka ia tak lagi nasionalis. Engkau dapat juga memilih berada pada jalur yang sebelah mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-4431296966549554807?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/4431296966549554807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=4431296966549554807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/4431296966549554807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/4431296966549554807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2007/11/hari-pahlawan-and-movie-part-ii.html' title='Hari Pahlawan and The Movie Part II'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-253938288180707899</id><published>2007-11-20T01:39:00.001-08:00</published><updated>2007-11-20T01:39:57.008-08:00</updated><title type='text'>Hari Pahlawan and The Movie Part 1</title><content type='html'>Sabtu, 10 November 2007&lt;br /&gt;Bertepatan dengan hari Pahlawan, seharian saya merayakannya dengan cara berbeda. Sebenarnya tidak tepat pula dikatakan merayakan karena bagiku kondisi ini sama sekali tidak berhubungan dengan hari Pahlawan, apalagi dengan patriotisme maupun nasionalisme yang makin banyak dipertanyakan eksistensinya belakangan ini. So, apa yang kulakukan pada hari itu? Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menonton film. Jam 11 siang seusai mencuci baju yang lumayan banyaknya, saya pergi menyewa film di rental yang tak jauh letaknya dari kos. Film-film apa sajakah yang kusewa? Sudah lama sebenarnya saya tertarik ingin menonton Big Fish yang dibintangi Ewan McGreggor – dan inilah saatnya, kemudian The Queen (penasaran karena Helen Mirrer berhasil menyabet Oscar 2007 sebagai aktris terbaik), lalu Bridge to Terabithia (posternya pertama kali kulihat di Matos dan eye catching abis), terakhir The Painted Veil (resensi filmnya digambarkan dengan sangat indah di Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah Anda kuceritakan? Mungkin sebagian besar dari Anda, menganggap film-film di sini terlalu drama banget dan anak-anak. Sudahlah, patriotisme ataupun nasionalisme ternyata tidak melulu harus timbul dari film yang mengumbar action maupun kekerasan. Bahkan, dari film sekelas kartun pun ternyata kita jadi makin mencintai bangsa sendiri. Sebentar, sepertinya perlu diluruskan terlebih dahulu nih. Katanya di awal cerita, tujuanku menonton film ini tak ada kaitannya dengan hari Pahlawan, lalu kenyataannya? Nah, itulah yang hendak kuungkapkan. Memang betul sedari awal, saya tak hendak menyinggung hal ini, namun realitanya seusai menonton film, saya semacam mendapatkan pencerahan tersendiri. Tepatnya, ada suatu makna yang bisa  kuambil dari sini, bukan hanya kukorelasikan dengan kehidupan sehari-hari, melainkan juga bisa kuhubungkan dengan sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Yang berkaitan dengan tanah kita, bangsa kita sendiri. Baiklah, kita kupas satu per satu filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Big Fish, sebuah cerita satir tentang perjuangan hidup seorang ayah yang dicintai dimana-mana, kecuali anak lelakinya satu-satunya. Ironis memang, Bahkan, mereka tidak lagi berbicara setelah anaknya bekerja di daerah berbeda selama lebih dari 3 tahun. Kondisi mereka dipertemukan ketika sang ayah hendak menemui ajalnya alias sekarat, namun masih digambarkan cukup sehat. Semenjak kecil, sang anak dicekoki oleh cerita-cerita fantastis sang ayah yang berkaitan dengan petualangan sang ayah mengarungi daerah-daerah mistis dan bertemu dengan orang-orang aneh nan imajinatif. Sang anak selalu mendengar cerita-cerita yang baginya so impossible terjadi di dunia realitas. Parahnya, ia tidak lagi membedakan cerita ayahnya, mana yang sesungguhnya mana yang bukan. Tak pelak, di satu sisi sang anak merindukan kebersahajaan sang ayah yang apa adanya tanpa perlu ditutupi maupun diberi bumbu cerita bombastis. Di sisi lainnya, sang ayah memang sudah merasa sepatutnya ia bercerita sesuai dengan jalan hidupnya selama ini. Hal yang paling aneh dalam ceritanya ialah tentang ikan besar alias big fish. Nah, akhir cerita ditutup dengan ending mengejutkan plus mengharukan. Sepanjang film ini, penonton banyak disuguhi perjalanan hidup sang ayah di waktu mudanya yang penuh petualangan, mulai dari menyelamatkan penduduk kota dari raksasa, berteman dengan raksasa bekerja di sebuah sirkus demi bertemu calon istri tercintanya, serta masuk di sebuah daerah damai yang penuh dengan penduduk ramah. Benarkah semua cerita di atas? Entahlah, yang jelas dugaan sang anak ada benarnya juga. Bahwa cerita sang ayah tercampur antara fiksi dan realitas. Atau ini sebenarnya sebuah film yang dikatakan Baudrillard sebagai hiperrealitas, dimana suatu kondisi maya yang dikondisikan sebagai realitas sehingga penonton atau pelsayanya merasa apa yang dijalani dan dialaminya sebagai suatu realitas tersendiri. Contoh paling nyata ada di dunia hiburan Disneyland. Pengunjung merasakan betul apa yang dialaminya suatu bentuk realitas yang bisa dirasakan secara fisik padahal di situ kondisinya tak lebih suatu permainan fantasi nan imajinatif. Ah, kok jadi melenceng yah…Intinya, sang anak merasa sang ayah tidak lagi mampu membedakan kondisi yang dialaminya sehingga ia menjadi skeptis. Finally, sang ayah yang terserang stroke mendadak dan harus dilarikan ke rumah sakit meminta sang anak untuk bercerita tentang akhir hidupnya yang membahagiakan. Tiba pada satu titik ini, mendadak saya teringat pada ayah saya yang menderita sakit serupa, yakni stroke. Sungguh, tak tertahankan lagi air mata menetes deras meskipun mungkin bagi orang lain peristiwa ini tak membekas apapun. Bagi saya, inilah suatu momen yang sebenarnya, bahwa di sinilah sebenarnya titik point dari film ini. Berdasarkan penjelasan dr. Bennet, dokter yang merawat sang ayah, cerita yang terlalu berlebihan – terutama tentang kelahiran sang anak dan big fish – didasarkan pada sejarah kelahiran sang anak yang ternyata sang ayah tidak berada di tempat. Lalu apa maksudnya? Cerita imajinatif ini dibuat dengan tujuan agar lebih menarik sehingga pendengar tidak merasa bosan. Maka, runtuhlah pertahanan sang anak yang mengira semua ini hanyalah ilusi belaka. Akhir cerita ditutup secara imajinatif. Kepergian sang ayah digambarkan dengan cara menjelma menjadi big fish dan diiringi keluarga plus seluruh teman terdekatnya yang pernah ditemuinya sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Queen, sebuah film tentang kerajaan monarki terbesar di bumi ini, yakni Inggris yang dideskripsikan melalui sudut pandang Ratu Elizabeth II. Setting tahun dibuat sekitar tahun 1997, pasca pemilihan Tony Blair sebagai perdana menteri serta tragedi meininggalnya People’s Princess, Lady Diana yang menghebohkan. Melalui film ini, kita akan semakin mengerti pergulatan pikiran sang ratu dalam menghadapi keluarga, perdana menteri sendiri, dan khususnya media publik. Kegelisahannya dalam bertindak serta sentuhan humanistiknya yang menawan menjadikan sang ratu tak ubahnya sebagaimana manusia biasa yang rapuh, rentan, dan sensitif. Sang ratu yang beraliran konservatif tidak terlalu suka menonjol apalagi di-blow up pada media seperti halnya Lady Diana. Sudah menjadi rahasia umum pula jika ternyata sang ratu tidak terlalu menyukai Lady Diana yang digambarkan glamour, gila perhatian, tapi juga memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi sehingga dicintai semua orang. Sang ratu berada pada posisi yang sulit pasca kematian People’s Princess ini. Media menuntut agar sang ratu lebih terbuka, namun tentu saja ia tidak suka dibantah apalagi didikte. Hal yang dikritisi habis-habisan oleh media seperti halnya, sikap keluarga kerajaan yang tidak memberikan pernyataan seputar kematian Lady Diana, tuntutan agar keluarga kerajaan segera pindah dari istana Bristol ke Buckhingham di London, serta pengibaran bendera setengah tiang. Seiring tekanan yang bertubi-tubi dan meningkat dari hari ke hari, akhirnya sang ratu berkenan juga memenuhi seluruh tuntutan itu. Bukan apa-apa, semua itu hanya demi memenuhi keinginan rakyatnya. Yup, sebuah film yang dikombinasikan dokumenter ini terkesan riil. Sayang sekali, kehadiran pemeran yang lain seperti tempelan belaka. Pangeran Charles kurang memberikan greget yang nyata, anehnya tampangnya jauh sekali dengan Charles yang asli. Begitu pula Pangeran Philip, suami sang ratu. Sementara ibu suri malah terkesan terlalu gemuk. O ya, pemeran Tony Blair bermain lumayan cemerlang. Di akhir film, ia dan sang ratu kembali berdiskusi tentang kondisi aktual negeri. Pesan yang ditangkap dari film ini ialah ketakutan sang ratu akan penyesuaian kerajaan pada modernisasi serta sikap yang harus ditempuhnya terkait dengan media dan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bridge to Terabithia adalah film karya Walt Disney Pictures yang sebenarnya dikhususkan buat anak-anak. Namun, sebagian filmnya disisipkan kisah dan pesan filosofis tersendiri tanpa nada menggurui dan enak juga ditonton untuk semua kalangan. Alkisah, Jess anak lelaki satu-satunya dalam sebuah keluarga. Ia digambarkan pendiam, selalu diganggu teman-temannya, dimarahi orang tuanya, sedikit pemarah, namun suka menggambar. Suatu hari, sekolah mereka kedatangan murid cantik bernama Leslie Burke yang cerdas, atraktif, serba bisa, dan imajinatif. Mereka berdua berkawan akrab terlebih karena Leslie ternyata menjadi tetangga baru Jess. Berpetualang di daerah hutan, mereka menemukan dunianya sendiri dalam bermain, mencipta karakter-karakter tertentu, dan menamakan wilayah mereka sebagai Terabithia. Inti cerita ini sebenarnya simpel, namun dideskripsikan panjang dan bertele-tele. Pada menit awal, saya belum mampu menduga akhir cerita ini. Baru ketika menginjak akhir, saya tahu ada beberapa hal yang bisa dipetik, antara lain tentang persahabatan dan pesan “Janganlah takut untuk mencipta imajinasimu dengan membiarkan pikiranmu terbuka”. Menonton film ini, ingatan saya melambung pada masa kecil dimana juga memiliki teman-teman sepermainan yang juga mencipta visual imajinatif yang terkadang berlebihan. Maklum, sebagai penyuka komik, cerita anak-anak, dan novel, imajinasi saya bahkan tiba pada satu titik yang tidak terduga sebelumnya. Anehnya, seringkali imajinasi saya gunakan dalam mencipta hubungan-hubungan parallel antara komunikasi dengan kawan, guru, menghafal pelajaran, bahkan melakukan aktivitas lainnya. Kok jadi ngomongin diri sendiri? Aha, Leslie tampil begitu menggemaskan, mengagumkan, dan mencipta sensasi tersendiri. Memandangnya, mendadak saya ingat pada wajah Keira Knightley sewaktu kecilnya, mirip sekali, bahkan juga sifat-sifatnya. Apa mereka bersaudara? I dunno well, sayang sekali kelincahannya ditutup secara dramatis, tragis sekaligus ironis. Dia meninggal dalam permainan, sementara Jess pergi ke museum. Anehnya, saya juga merasakan kehilangannya sebagai teman secara mendadak. Entah, sensasi apa ini. Apakah ini isyarat bahwa saya juga ditinggal pergi? Walah-walah, sebuah persahabatan yang indah akhirnya ditutup secara mengenaskan. Bayangan saya, mungkin sekali film ini ingin menegaskan, khususnya pada anak-anak bahwa kematian sahabat bukanlah kesalahan kita sendiri. Melainkan, sudah seharusnya ia pergi. Kepergian mereka merupakan suatu takdir yang harus diterima. Dan, meskipun mereka telah tiada namun kenangan-kenangannya tidak akan pupus ditelan waktu. Oke, terkait dengan nilai filosofis, ada beberapa yang terlontar dari Leslie, seperti biarkan pikiranmu terbuka. Namun, ada juga yang terkesan dangkal. Seperti halnya sewaktu mereka berbincang tentang alkitab, yesus, dan neraka. Penolakan Leslie akan nilai alkitab dan neraka sebenarnya bisa memancing diskusi lebih lanjut. Namun, perbincangan ini terputus begitu saja tanpa ada kelanjutan. Lebih baik jika ditiadakan saja seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Painted Veil merupakan film ironi tentang kehidupan suami istri yang banyak terjadi dalam kehidupan modern saat ini. Sebuah intrik ketidakcocokan yang bisa berujung pada banyak hal, seperti saling diam, perceraian, atau bahkan pembunuhan. Jalan apakah yang mereka pilih dan kenapa mereka memilihnya? Naomi Watts (maaf lupa nama di filmnya) menikah dengan Edward Norton (ini juga lupa, hehe….) bukan atas dasar cinta, melainkan karena hendak pergi dari ibunya di London. Seusai menikah, mereka langsung tinggal di daerah Shanghai pedalaman karena Edward bekerja sebagai ahli mikrobiologi di suatu instansi pemerintahan di sana. Sebagai istri setia, Naomi manut-manut wae tinggal dimanapun, bahkan di tempat yang agak kumuh. Anehnya, semakin hari hubungan di antara mereka sebagai suami istri semakin aneh dan aneh. Edward tidak hendak berbicara jika tidak bertanya, sementara Naomi tidak tahan didiamkan, mencari keasyikannya sendiri, tapi tetap tidak bisa. Ia butuh perhatian, kasih sayang, hiburan, dan permainan. Ia belum mendapatkannya dari suaminya. Tak pelak, ketika ada seorang lelaki yang menawarinya, ia terjatuh dalam perselingkuhan yang membelenggu. Sang suami yang tahu pura-pura tidak tahu menahu. Dalam suatu pertengkaran dahsyat, akhirnya mereka bersepakat untuk pergi ke suatu wilayah epidemi kolera dengan tujuan selain membantu para korban juga menjauhkan Naomi dari selingkuhannya. Tapi sama saja, kehidupan pernikahan mereka tetap hambar. Bahkan makin menjadi-jadi. Sebuah hubungan yang tiada artinya. Dalam malam yang menentukan mereka berusaha mendobrak pintu penyekat selama ini. Kenapa sepertinya susah dipahami, padahal Naomi hanya seorang wanita biasa yang tidak hendak menjadi hebat. Begitu pula, Edward yang selama ini tidak mau mengerti hal sepele yang menjadi keinginan wanita. Lambat laun, hubungan mereka makin akrab dan sepaham. Puncaknya, Naomi hamil diiringi dengan kematian Edward yang ternyata terjangkit kolera. Film ini memberikan banyak pelajaran terkait dengan kekuatan hati, cinta, dan kasih sayang serta bagaimana menjalin dan mempertahankan sebuah hubungan. Sebagai suami istri hubungan memang lebih rentan, tapi bagaimana sikap saling mengerti, perhatian, dan seiring sejalan akan mampu menyatukan keduanya dalam payung rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, selanjutnya apa hubungannya dengan hari Pahlawan? Temukan jawabannya dalam Hari Pahlawan and The Movie Part II.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-253938288180707899?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/253938288180707899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=253938288180707899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/253938288180707899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/253938288180707899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2007/11/hari-pahlawan-and-movie-part-1.html' title='Hari Pahlawan and The Movie Part 1'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-173553262973230254.post-2263354494907912002</id><published>2007-11-20T01:36:00.000-08:00</published><updated>2007-11-20T01:38:47.968-08:00</updated><title type='text'>Nasionalisme dan Rakyat Aceh</title><content type='html'>17 November 2007&lt;br /&gt;Sewaktu masih duduk di bangku SD, saya suka sekali mengikuti pelajaran kesenian. Bukan karena gurunya, melainkan karena ada kegiatan menyanyi bersama-sama. Seringkali saya sendirian disuruh maju di depan kelas untuk bernyanyi sendirian dan saya dengan pede-nya maju, lalu dengan lantang bernyanyi. Bermacam-macam lagu diajarkan waktu itu. Namun, kebanyakan tentang lagu perjuangan. Saya masih ingat benar – sebab buku catatan saya sewaktu SD juga masih tersimpan dalam kondisi bagus – lagu-lagu karangan Gesang seperti Jembatan Merah, Kusbini seperti Maju Tak Gentar, Ismail Marzuki untuk Rayuan Pulau Kelapa atau Titiek Puspa macam Pahlawan Merdeka selalu berkumandang di kelas sewaktu pelajaran ini. Dan, entah kenapa perasaan saya waktu itu benar-benar menggebu-gebu seolah-olah Indonesia memang seindah lagu-lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa, misalnya saya membayangkan berada pada suatu tempat nan permai, penuh dengan pohon kelapa yang dedaunannya bergoyang seirama semilirnya angin. Pantai pasir putihnya menambah keindahan pemandangan alam imajinatif saya ini. Plus, nuansa ombak biru yang tenang menampari bibir pantai berpadu dengan burung-burung camar yang terbang mencari mangsa. Ah, sungguh rasanya indah sekali kesan yang saya dapatkan. Padahal hingga kelas 6 SD, saya belum pernah bermain-main di pantai yang ada pasir putihnya. Namun, melalui lagu tersebut, kesan saya pada pantai benar-benar melekat dengan erat. Bahkan tanpa perlu mengunjunginya. Aneh bukan? Saya waktu itu pernah berkunjung ke Pantai Popoh, tapi sayang tidak berpasir, melainkan diberi benteng-benteng yang dibangun dari batu sehingga pengunjung tidak bisa bermain-main bebas dengan ombaknya. Alasannya, pantai terkena dampak abrasi yang cukup parah. Alasan yang lainnya, pantainya tidak cukup bagus kondisinya. Alasan terakhir, ombaknya cukup keras dan berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari semua lagu, saya cukup terkesan dengan lagu Dari Sabang Sampai Merauke yang bernuansa mars nan menghentak. Menyanyikannya bersama-sama, saya membayangkan daerah Sabang yang berada entah dimana – pokoknya di dekat Aceh – dan Merauke, saya ingat ini nama sebuah kota di Irian Jaya [nama popular sewaktu SD dulu, jauh sebelum kenal dengan Papua]. Saya pikir, dulu Sabang merupakan nama sebuah daerah nun jauh di sana [Tiba-tiba ingat lagu Nun Jauh Dimana yang bernada mendayu-dayu] dan berbeda dengan Aceh. Belakangan ketika membuka atlas, barulah saya tahu sejarahnya. Yup, Sabang sampai Merauke menceritakan bentangan alam negeri Indonesia mulai dari daerah yang paling barat hingga timur. Maaf, saya lupa bujur maupun lintangnya. Kalau waktu SD saya ingat sekali posisi koordinat batas-batas Indonesia dari empat mata angin, bahkan sempat menjadi pertanyaan sewaktu mengikuti Lomba Cerdas Cermat IPS/PPKn yang mengantarkan saya sebagai juara II untuk tingkat kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, lagu yang saya nyanyikan dengan bersemangat ini ternyata punya sejuta makna dan arti. Ternyata, kedua daerah yang letaknya berjauhan dengan jarak lebih dari tiga kali panjang Pulau Jawa [sekitar 1000 km] ini malah daerah yang rawan dengan konflik. Kesan permai yang saya dapatkan dengan lagu-lagu di atas, mendadak hilang seiring kedewasaan saya dalam menangkap segala kondisi dan situasi. Ternyata, pemicunya tidak main-main. Sebuah sejarah yang apabila dirunut akan menjadi panjang dan berlarut-larut. Sebuah faktor yang jelas sekali akan melibatkan banyak korban nyawa, harta, benda, dan politik serta kemanusiaan. Dengan  pemantik yang berdampak sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwalnya, pada 1926, seorang wartawan Batavia bernama Adi Negoro menulis tentang pelbagai daerah, mulai dari Singapura, Colombo, Aden, Port Said, Marseille, dan Gibraltar, dalam sebuah buku bertajuk Melawat ke Barat. Dalam persinggahannya naik kapal Tambora – diambil dari nama Gunung di kepulauan Nusa Tenggara dan pernah meletus dengan sangat dahsyat melebihi Krakatau pada abad antara 17-18-an – ia mampir di daerah Sabang. Ia lalu membandingkan kondisi tempat itu dengan Singapura, salah satu kota pelabuhan yang saat ini menjadi paling modern dan paling besar di dunia. Menurutnya, Belanda telah menguasai Sabang sejak 1887. Sebuah perusahaan, Sabang Maatschappij, diberikan wewenang untuk mengelola pelabuhan bebas tersebut, sekaligus membangun dermaganya antara 1896 dan 1911. Pelabuhan itu dilengkapi dengan dok perbaikan kapal seberat 2.600 ton plus empat derek raksasa yang berfungsi untuk menaikkan batubara ke kapal yang berhenti di Sabang, dari Eropa, Cina, Jepang, Singapura, ataupun Batavia. Pada 1924, perusahaan ini membangun dok lagi, seberat 5.000 ton untuk meningkatkan kapasitas perbaikan kapal. Sayangnya, dalam buku tersebut tidak diungkapkan alasan pembangunan besar-besaran yang dilakukan Belanda sebenarnya hanyalah kedok yang dibuat agar rakyat Aceh menjadi jinak dan patuh. Pendudukan Belanda terjadi antara 1876 dan 1904. Saat ini, kondisi Sabang benar-benar memprihatinkan, jika dahulu total panjang dermaga 2.700 meter, sekarang hanya tinggal 572 meter saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Belanda atas Aceh sebenarnya dipicu sejak lama, ketika pecah Traktat London, sebuah perjanjian yang ditanda tangani Kerajaan Inggris dan Belanda pada 1824. Perjanjian itu menyepakati : Semenanjung Malaya untuk Inggris dan Pulau Sumatera untuk Belanda. Namun kemudian, problema perdagangan di Sumatera jadi bahan debat sebab Inggris curiga kepada Belanda yang menghalangi perdagangannya ke wilayah itu. Kebetulan, waktu itu Aceh menguasai pasaran rempah-rempah. Karena Belanda kuatir diplomasi Aceh terhadap negara barat semakin gencar, perjanjian baru Inggris-Belanda diluncurkan pada 1871 yang intinya memberikan kekuasaan lebih banyak bagi Belanda dalam menguasai Aceh. Selanjutnya, Belanda menyerbu Kesultanan Aceh dan menguasai negeri itu dengan cepat, namun rakyat Aceh sudah siap dengan model gerilya yang merepotkan Belanda. Karena itulah, ditugaskanlah seorang professor kajian Islam di Universitas Leiden, Snouck Hurgronje, untuk meneliti kondisi Aceh yang sebenarnya. [Saya telah baca sebagian biografi professor ini dalam majalah Intisari plus foto dirinya bersama beberapa rakyat Aceh]. Professor ini menghasilkan ulasan mengenai Aceh berikut strategi yang digunakan untuk melawan mereka. Sayang sekali, meskipun J. B. Van Heutsz, gubernur militer di Aceh, sudah melancarkan beberapa strategi, tetap saja kondisinya menyulitkan. Baru, setelah Tuanku Muhamat Dawot menyerahkan Aceh pada Belanda pada 1903, Van Heutsz bisa menaklukkan Aceh setahun sesudahnya, 1904. Seusai Perang Dunia II, Belanda yang menyerah pada Jepang, menyerahkan wilayah ini sepenuhnya kepada Republik Indonesia – disambut sengit rakyat Aceh yang menganggap penyerahan ini tak berdasar. Bagaimana mungkin orang yang tak punya hak menyerahkan wilayahnya pada orang lain yang juga tak punya hak? Maka, Daud Beureuh yang terkenal dengan pemberontakannya – sebelumnya ia sangat mendukung RI, bahkan turut menggerakkan rakyat Aceh untuk menyumbang RI dua buah pesawat dengan balasan otonomi – pada 1953. Ketika tahun 1961 Aceh diberi sebutan istimewa alias otonomi khusus, Beureuh menghentikan perlawanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bibit-bibit separatisme sudah telanjur meluas. Hasan Tiro, cucu Teuku Cik Ditiro – pahlawan nasional Indonesia, tidak puas dengan kondisi ini. Dari dirinyalah, ia menggerakkan organisasi dalam bentuk perlawanan bawah tanah terhadap RI, melalui medianya, GAM [Gerakan Aceh Merdeka] kepada rakyat Aceh. Ia juga memperkenalkan konsep baru dalam memandang sebuah bangsa, ‘bangsa Aceh’ yang terdengar aneh di telinga dan diversuskan dengan ‘bangsa Indonesia’. Hasan Tiro kemudian memproklamirkan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976. Bahkan pada 1979, ia sudah berhasil membentuk sebuah organisasi kebangsaan Aceh, mendirikan pemerintahan bayangan, dan menunjuk pejabat-pejabat di cukup banyak daerah Aceh. Kondisi Aceh yang semakin panas, memaksa diberlakukannya darurat militer oleh presiden Soeharto  – sebuah kebijakan yang cukup popular seiring meningkatnya isu kebangsaan di tanah air. Tentara nasional diterjunkan di daerah tersebut agar mampu memberangus gerakan separatis itu. Operasi yang meliputi pengintaian, kegiatan mata-mata, pos pemeriksaan, jam malam, penggeledahan rumah, dan penangkapan secara besar-besaran ini sudah menewaskan banyak orang Aceh hingga mencapai 10.000 orang. Rumah-rumah Aceh dibakar, para wanita dijadikan sandera atau dilecehkan secara seksual. Antara 1989 hingga 1990, organisasi hak asasi manusia melaporkan banyak sekali terjadi kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen UGM, Ibrahim Alfian, mengatakan Aceh merupakan bagian sah dari bangsa Indonesia. Dikatakannya, “Berdasar Maklumat Ulama Seluruh Aceh tertanggal 15 Oktober 1945, wilayah Aceh sejak itu telah dinyatakan ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Kalau sekarang ada yang ingin merdeka dan mencoba memisahkan diri, seperti yang dia lakukan, mereka jelas tidak tahu sejarah. Menurut masyarakt Aceh, mereka yang mengabaikan serua para ulama diberi istilah pengkhianat, tidak bisa lain.” Pernyataan ini dimuat pada harian Kompas. Ia juga mempertanyakan integritas Hasan Tiro, yang menurutnya kurang bisa dipercaya sosok yang menikah dengan perempuan asing. Perlu diketahui, Hasan Tiro memiliki istri asing ketika ia lulus kuliah dari Columbia University dan sempat tinggal di New York. Selanjutnya, berencana bergabung dengan Exxon Mobil, perusahaan Amerika yang mengelola gas alam Aceh, namun malas berunding dengan Jakarta sehingga ia membangun organisasinya sendiri yang ternyata berkembang menjadi gerakan pemberontakan, GAM. {Artikel di atas diringkas dari artikel berjudul Republik Indonesia Kilometer Nol, karya Andreas Harsono, dimuat di majalah Pantau edisi Desember 2003].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat ini ditanya tentang nasionalisme, mungkin sekali rakyat Aceh masih akan meraba-raba makna maupun artinya dalam kehidupan mereka. Seusai Referendum yang dilakukan waktu pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sisa-sisa separatis masih tampak, walaupun belum semenonjol dahulu. Sesungguhnya, orang Aceh tidak membutuhkan janji muluk-muluk apalagi hingga merepresi, namun yang diperlukan adalah seperangkat hukum, yang tidak memberikan kekebalan, yang bisa mengadili tentara, pejabat, koruptor, atas berbagai kejahatan atau pelanggaran hak asasi yang mereka lakukan – sesuai dengan ajaran Al Quran yang sangat menekankan keadilan. Pemberian system hukum syariah yang tanpa makna seolah-olah menafikan keberadaan sesungguhnya yang diderita rakyat Aceh. Seperti pemberian permen pada anak kecil yang sebenarnya menginginkan segelas susu. Permen hanya akan memberikan sensasi sekilas yang cukup menyenangkan sesudah itu mereka akan sakit gigi. Beda halnya dengan susu yang memberikan efek menyehatkan terhadap perkembangan dan pertumbuhan badan anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku kuatir apabila lagu Sabang sampai Merauke itu hanyalah sebuah lagu yang tanpa makna maupun arti. Hanyalah sebuah lagu yang jika dinyanyikan sebatas formalitas belaka yang kehilangan greget, apalagi esensinya. Bagaimana generasi penerus bangsa akan bisa belajar mencintai bangsanya sendiri jika lagu tentang kecintaan tidak dinyanyikan sepenuh hati, bahkan tidak mencerminkan kondisi yang tengah terjadi. Biarlah, nasionalisme dan rakyat Aceh akan menemukan maknanya sendiri melalui pencarian jati diri, bentuk, dan kontemplasinya dalam tanah air.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/173553262973230254-2263354494907912002?l=abhrithinks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abhrithinks.blogspot.com/feeds/2263354494907912002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=173553262973230254&amp;postID=2263354494907912002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2263354494907912002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/173553262973230254/posts/default/2263354494907912002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abhrithinks.blogspot.com/2007/11/nasionalisme-dan-rakyat-aceh.html' title='Nasionalisme dan Rakyat Aceh'/><author><name>abhim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06436249341466907117</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QbyrAoniGAI/R7qyf67HKKI/AAAAAAAAABU/OpV9g8tmPSg/S220/DSCN3406.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
